22/03/10

ANALISIS KECIL-KECILAN KENAIKAN TRAIF DASAR LISTRIK

Listrik merupakan salah satu kebutuhan utama masyarakat Indonesia. Dengan adanya listrik proses produksi yang dilakukan oleh industri-industri di Indonesia menjadi lebih cepat, efectife dan efisien. Rencana pemerintah yang akan menaikkan tarif dasar listrik(TDL) pada bulan Juli 2010 sebesar 15% akan sangat berdampak bagi masyarakat dan dunia usaha. Sebagaimana yang dikemukakan oleh mentri keuangan Sri Mulyani Indrawati, bahwa pada bulan Juli TDL akan naik sebesar 15%. Hal itu sudah memperhitungkan nilai subsidi listrik dan tambahan danamelalui investasi langsung pemerintah ke PLN. Subsidi listrik di sepanjang tahun 2010 dialokasikan Rp. 54,5 T naik dari alokasi awal sebesar 37,8 T (kompas, 9 Maret 2010). Berangkat dari berita diatas mari kita “Ngedoboskan” permasalahan ini dengan ringan dan santai.

Teori Barang Publik
Listrik termasuk dalam barang yang “menguasai hajat hidup orang banyak”, dimana ketentuan akan ini diatur dalam pasal 33 UUD 1945. Di dalam ilmu ekonomi listrik bisa menjadi barang publik atau barang swasta, karena listirk bisa diproduksi oleh Negara atau oleh perusahaan. Didalam Negara ini, Negara yang menjunjung tinggi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, meyebabkan listrik diproduksi oleh Negara.
Didalam sistem perekonomian sosialis, sebagian besar barang-barang swasta dihasilkan oleh pemerintah. Kebalikan pada sistem perekonomian liberal dimana sebagian besar barang-barang publik dihasilkan oleh sektor swasta. Maka didalam sistem ekonomi Indonesia yang mengedepankan keadailan sosial, maka pemerintah beserta teknokrat-teknokratnya harus menghitung dititik mana sumber-sumber ekonomi yang ada dihasilkan seoptimalkan mungkin sehingga tujuan masyarakat adil dan makmur tercapai.
Memang listrik bukanlah barang yang murni bersifat public goods. Pengertian barang publik murni adalah: tidak ada seorangpun yang mau membayar jika menggunakan barang tersebut. Jadi jika sekian orang menggunakan Listrik kemudian ada satu orang lagi yang menggunakannya listrik maka tambahan satu orang ini tidak menambah biaya.
Maka dari pengertian diatas, Listrik bisa dimasukkan kedalam kategori quasi public goods yang artinya seseorang harus mengorbankan pendapatannya guna menikmatinya. Karena biaya yang ditanggung sektor kelistrikan ini begitu besar, maka timbullah sifat monopoli ilmiah dimana hanya perusahaan Negara yang mampu menyelenggarakannya.

Monopoli
Pertama-tama ngedobos akan menerengkan dahulu bagaimana sifat suatu perusahaan baik perusahaan yang berada di pasar monopoli maupun perusahaan yang berada pada persaingan sempurna. Jika perusahaan yang bergerak pada pasar persaingan sempurna akan memilih berproduksi pada tingkat dimana harga sama dengan biaya marjinalnya. Alasannya adalah: bahwa perusahaan kompetitif selalu dapat memperoleh tambahan keuntungan sepanjang harga lebih besar daripada biaya marjinal unit terakhir.
Jika dalam pasar persaingan sempurna harga harus lebih besar daripada biaya marjinalnya, maka di pasar monopoli penerimaan marjinal harus sama dengan biaya marjinalnya. Jadi bisa dikatakan agar monopoli berjalan efisien maka perusahaan harus memproduksi output yang banyak untuk menurunkan biaya marjinalnya.
Karena perusahaan persaingan sempurna tidak mendapatkan laba ekonomi dalam jangka panjang, perusahaan dengan posisi monopoli dalam pasar dapat memperoleh laba yang lebih tinggi dibandingkan jika pasar dalam kondisi pasar persaingan sempurna. Tetapi hal ini bukan berarti bahwa para monopolis pasti memperoleh keuntungan yang besar. Hal tersebut tergantung pada kemampuan suatu perusahaan monopoli untuk meningkatkan harga diatas biaya marjinalnya.

Distribusi Input dan Output Produksi
Proses produksi adalah sebuah proses yang dilakukan oleh dunia usaha untuk mengubah input menjadi output. Dunia usaha meliputi pengusaha besar, pengusaha menengah dan pengusaha kecil. Dimana di indonesia umumnya dibagi menjadi 9 sektor. Dan kesembilan sektor ini sebagian besar menggunakan listrik sebagai salah satu input produksinya. Yang pada akhirnya menghasilkan output yang dinikmati oleh rumah tangga, perusahaan, pemerintah dan luar negeri alias exportir.
Kita lihat betapa vitalnya posisi kelistrikan ini dalam setiap sektor. Jika kita menarik analisis pada keterkaitan antar industri baik keterkaitan kebelakang maupun kedepan tetap saja listrik mempunyai peran yang amat vital. Maka bisa dibayangkan jika ada salah satu sektor yang produksinya menurun, maka bisa dihitung berapa besar pengaruhnya terhadap sektor lain?
Jika kita melihat pada teori perusahaan yang bermain pada pasar monopoli, tentu perusahaan itu akan menikmati laba yang cukup besar jika mampu meningkatkan harganya diatas biaya marjinal. PLN sebagai perusahaan Negara tentu tidak semata-mata mengejar profit atau keuntungan. Tetapi lebih dari itu, sebagai perusahaan Negara, PLN harus mampu mewujudkan keadilan sosial. Keadilan disini bukan penyama rata-an tetapi memberikan porsi sesuai ukurannya.
Jika memang kenaikan tarif dasar listrik untuk memajukan bangsa dan Negara kami siap menerima. Tetapi jika itu untuk membuat kekacauan, wah jangan dinaikkan deh. Negara seharusnya menjamin, bagaimanapun caranya harus bisa memenuhi kebutuhan listrik rakyatnya. Tidak perlu hitung-hitungan matematik, statistik dan ekonometrik yang njelimet untuk melihat pengaruh kenaikan listrik terhadap perekonomian rakyat banyak. Cukup secara logika sederhana saja, jika anggaran biaya masyarakat untuk membeli listrik kita misalkan 1000 dan pemerintah menjualnya sebesar 1100, apakah sanggup membeli?
Dalam konteks ekonomi makro hal itu sanggup saja dibeli karena itu termasuk dalam autonomous consumpsition atau konsumsi otomatis. Dari mana uangnya? Dari hutang luar negeri. Pertanyaannya maukah kita berhutang lagi? Saran ngedobos pemerintrah menghitung berapa besar dampak langsung bagi industri dan rumah tangga masyarakat kecil, setelah itu berapa besar dampak ikutan antar sektor, baru menghitung berapa besar dampaknya bagi Negara. Ngedobos hanya bisa berdoa semoga pemerintah sudah benar-benar menghitung BIAYA yang harus ditanggung semua rakyat Indonesia dalam hal rencana kenaikan tarif dasar listrik.

10/03/10

PEMIMPIN

udah sejak lama kita kehilangan atau belum muncul seorang pemimpin yang bisa benar-benar pemimpin. Entah itu pemimpin Negara, pemimpin Organisasi Mahasiswa atau pemimpin Partai politik. Pemimpin menurut pengertian orang awam adalah orang yang mampu mengayomi dan mampu menciptakan rasa aman, tenang dan bahagia. Pemimpin menurut pengertian kaum Intelek adalah Orang yang mampu menciptakan merangkul semua golongan, meredam semua perbedaan dan menjadikan keadaan menjadi lebih baik. Kalau menurut Perpolitikan pemimpin adalah orang yang bisa diterima oleh semua golongan, mampu menyelaraskan kepentingan-kepentingan politik. Semua bisa ditarik satu kesimpulan bahwa seorang pemimpin harus bisa membuat orang dan tempat yang dipimpin menjadi lebih baik atau bahasa kerennya ada quantum conditon.
Begitu ruwet dan pentingnya seorang pemimpin sehingga semua elemen yang menopang Negara ini terasa berjalan ditempat. Dan hal ini diperparah dengan salahnya pemahaman tentang kepemimpinan ini. Sebuah kisah yang sangat menarik betapa pemahaman konsep kepemimpinan kita sudah sangat-sangat salah.
Di suatu waktu dan suatu tempat terdapat sekelompok pemuda-pemuda kaum intelektual calon pemimpin bangsa berkumpul. Mereka semua berjumlah 19 orang. Pada awalnya mereka bersepakat menunjuk 1 orang pemimpin untuk mengetuai kelompok mereka ini. Setelah proses itu dilaksanakan jalanlah kelompok ini. Mereka membuat rencana-rencana kerja dengan riang dan gembira. Semangat untuk memperbaiki keadaan suatu daerah jelas sangat terpancar di wajah mereka.
Hari demi hari terus berlalu, dan mulailah timbul keretakan-keretakan dalam kelompok ini. Hal ini dipicu oleh sikap seorang pemimpin yang memang tidak mau terbuka terhadap permasalahaan dan cenderung mau diatasinya sendiri. Diperparah dengan sikapnya yang mau menang sendiri menyebabkan anggota kelompok ini merasa jengkel.
Hingga puncaknya, terjadi disuatu malam, saat semua sedang berkumpul membahas sebuah acara, tiba-tiba ada yang mulai mengungkit-ungkit kesalahan si pemimpin ini. Hei pak ketua tidakkah kau merasa ada yang aneh dengan hari ini? Jawab si ketua , iya saya merasa ada yang aneh dengan hari ini. Si pembuka tadi berlanjut apa yang aneh pak Ketua? Si ketua tahu arah pembicaraan ini, maka si ketua menjawab dengan diplomatis sudah kita tetap fokus membahas acara ini. Akhirnya si pembuka tadi menjawab, “ Kamu tidak merasa bersalah dengan kejadian tadi siang? Meninggalkan tugasmu dalam membuat power point untuk persentasi”
Akhirnya dimulailah peperangan didalam kubu kelompok tersebut. Kelompok tersebut pecah menjadi tiga kelompok pendukung ketua dengan segala argumen penguat yang membenarkan tindakannya. Kelompok pemberontak dengan segala argumen pendukung yang membenarkan tindakannya. Dan kelompok yang tidak memihak dengan segala alasan untuk tidak terlibat.
Jika kita bicara sejarah Islam hal ini pernah terjadi pada waktu Khalifah Ali r.a sang pintu ilmu. Yang tentu masalah diatas tidak bisa disamakan dengan permasalahan yang dihadapi Manusia mulia ini. Jadi pada waktu Ali r.a naik menjadi seorang Khalifah masyarakat Islam terpecah menjadi tiga, yang memusuhinya, mendukungnya dan bersikap netral atau menjauh dari konflik. Dan akhir cerita Khalifah Ali r.a wafat dibunuh oleh seorang dari kaum kwaritz.
Alhamdulilah dikelompok yang sedang dilanda konflik tadi tidak sampai terjadi pembunuhan. Hanya saja terjadi cucuran air mata dari seorang lelaki yang merasa dipersalahkan oleh si ketua karena menyebabkan keretakan atau disharmonisasi kelompok. Subhanallah inilah bangsa yang penuh cinta kasih, tidak presidentnya tidak pula rakyatnya. Sungguh sangat mudah terharu hingga mncucurkan air matanya karena merasa bersalah. Benar-benar bangsa yang penuh cinta kasih. Tapi air mata saja tidak cukup untuk mengubah keadaan kelompok atau bangsa ini diperlukan kerja nyata dan sebuah cinta yang sangat mendalam untuk memajukan bangsa dan kelompok tadi.
Setelah tragedi tangis-menagis terjadi tensi yang semula tinggi akhirnya berhasil diredahkan. Dengan jalan saling maaf-memaafkan. Inilah salah satu bukti mengapa bangsa kita menjadi bangsa yang luhur. Setelah saling berdebat sampai mengalirkan air mata, tapi tetap ditutup dengan saling maaf memaafkan. Tapi ada satu hal yang aneh mengapa setelah saling maaf memaafkan suasananya masih menjadi tegang, masih adakah bara dendam dihati yang masih belum padam? Wallahu’alam.
Satu hal tentang konsep kepemimpinan yang dapat penulis petik dari kisah nyata diatas adalah ternyata kita masih membutuhkan perintah dari seorang pimpinan untuk berbuat atau melakukan sesuatu pekerjaan (top down). Tanpa perintah meskipun itu untuk kepentingan kelompok kita tidak mau mengerjakan tugas tersebut. Masih merasa bahwa tanpa dirinya tidak mungkin hal ini terlaksana. Merasa bahwa dirinya-lah yang paling baik dan paling benar.
Jika seorang pemimpin tidak mau membagikan permasalahan yang dihadapi dan cenderung ingin dikerjakan sendiri, itu adalah bukti cinta pemimpin pada anggotanya. Pemimpin tidak mau membebani beban yang lebih berat lagi terhadap anggotanya. Seharusnya anggotanya mengerti bahwa pemimpinnya sungguh sangat manusia, dan syukur-syukur mau membantu meringankan beban yang diderita tanpa ada rasa kesal dalam hati.
Begitu juga pemimpin, kau mempunyai teman-teman yang selalu setia disampingmu. Ya mbok berbuat seperti pepatah “ ringan sama dijinjing, berat sama dipikul”. Pemimpin itu harus memperhatikan yang dipimpin dan harus siap tidak diperhatikan oleh yang dipimpin. Dalam sudut manapun keegoisan seorang pemimpin pasti akan menimbulkan perpecahan. Dalam hal yang penting saja keegoisan itu mampu menimbulkan perpecahan terlebih lagi dalam hal sepele malah lebih hebat perpecahannya.
Untuk membangun kembali Negara ini tidak cukup hanya dengan adanya pemimpin yang kuat. Meskipun kita dipimpin oleh ratu adil yang berjumlah sepuluhpun selama kita belum memahami apa itu kepemimpinan, maka kita tetap tidak akan merasakan adanya keadilan. Yang dipimpin juga harus mengetahui apa tugas dan kewajibannya, tanpa menunggu perintah atau suruhan. Lebih baik lagi membantu meringankan pekerjaan orang lain tanpa disertai pemikiran bahwa dirinyalah yang paling hebat dan yang paling pintar. Bangsa Indonesia adalah satu kesatuan, satu komponen dan satu elemen yang membangun Negara ini. Tidak ada yang namanya si A lebih baik dari si B, atau pemimpin lebih baik dari bawahan. Semua adalah peran yang sudah ditetapkan oleh sang sutradara. Jika mau mengubah peran yang sudah didapat maka mintahlah pada sang Maha pembuat cerita.
Untuk teman-teman, sahabat-sahabat dan saudara-saudaraku yang meluangkan waktunya sejenak untuk membaca tulisan yang bukan tulisan ini. Diri ini hanya mengajak mari kita paham dulu apa itu pemimpn dan kepemimpinan. Semoga kita semua dibukakan pikiran kita oleh Yang Maha mempunyai Ilmu dan mampu menerapkannya. Indonesia damailah, hargai perbedaan. Berbeda-beda tapi tetap satu jua. Untuk Indonesia yang lebih maju dan lebih baik. Wallhua’lam

06/03/10

NEGERI SEJUTA ENERGI

Sebuah negeri yang damai dan indah, dengan keramahan penduduknya. Berbagai macam kumpulan energi-energi terkumpul di negeri ini. Mulai dari energi sumber daya alam-nya, dari tanah yang subur, kandungan minyak bumi, energi budayanya, energi estitika-nya sampai energi senyumannya. Sangat beruntung penulis bisa singgah dan bertempat tinggal selama satu bulan di negeri tersebut. Menyentuh, berinteraksi dan merasakan euforia energi-energi negeri ini.
Negeri yang pernah melahirkan Raja Angling Dharmo dan patih Batik Madrim, negeri yang telah melahirkan ajian terkanal di dunia persilatan, ajian mliwis putih ini begitu menyimpan sejuta pesona. Selain keunikan silat-menyilat, negeri ini juga terkenal akan ladang minyak yang lumayan besar. Bahkan terbesar untuk pertambangan minyak bumi daratan di Indonesia. Karena kekayaan inilah perusahaan minyak asing sangat tergiur sampai meneteskan air liurnya. Exxon mobile, Petrocina, dan anak-anak buahnya.
Selasa, 02 Februari penulis menginjak-kan kakinya di negeri yang permai ini. Tinggal di negeri ini selama satu bulan, untuk berlibur, mempelajari berbagai macam energi yang terdapat di-dalamnya dan syukur-syukur bisa sedikit mengambilnya untuk bahan pembelajaran. Bertempat tinggal di kediaman raja negeri ini, penulis sangat bersyukur kepada Allah SWT dan sangat berterimah kasih kepada raja yang baik hati ini, karena disambut dengan tangan yang terbuka dan keramahannya. Tinggal di padepokan yang berukir kayu jati, membuat hati merasa nyaman dan tentram, di tambah dengan keramahan yang membuat hati merasa tentram.
Ya itulah energi pertama yang saya pelajari di negeri ini, yaitu energi tentang bagaimana menghormati tamu sesuai dengan budaya yang dianutnya. Bagi yang belum pernah mengunjungi negeri pasti terkaget-kaget dengan budaya negeri ini. Apa yang menarik dari budaya negeri ini sehingga membuat orang bisa salah pengertian? Bagi yang berasal dari adat jawaisme yang mengedepankan basi-basi sebelum mempersilakan tamu-nya untuk memakan hidangan yang disediakan, pasti akan merasa orang-orang di negeri ini sangat pelit dan terasa jahat. Memang budaya disini tidak mempersilakan orang untuk memakan atau meminum sesuatu yang telah disediakan. Kalau ingin memakan atau meminum langsung diambil aja. Jadi bagi para penganut jawaisme jangan terkaget-kaget jika menemukan energi budaya yang lain. Bukankah budaya merupakan rahmat dan anugrah yang diberikan Allah untuk bangsa ini. Bangsa mana yang mempunyai warna-warni yang begitu banyak, sehingga tampak keindahannya dibanding bangsa lain. Maka dari itu Bhineka tunggal ika merupakan ungkapan yang sangat pas untuk menjelaskan berbagai warna yang terdapat di dalam bangsa Indonesia.
Kembali di negeri yang permai ini, malamnya penulis mencoba mencari pengalaman lagi untuk menangkap dan mempelajari energi yang lain lagi. Penulis singgah untuk Sholat di langgar belakang padepokan tempat penulis menginap. Sungguh sangat jauh kondisi bangunan Langgar dengan padepokan yang penulis tinggali. Atap yang bocor, bangunan yang sudah hampir roboh dan kotor. Karpet yang sudah bolong-bolong, kelambu yang kusam, speaker yang sudah agak rusak, sampai penerangan yang hanya satu buah. Dalam hati penulis sempat terbesit prasangka yang sangat jelek, wah penduduk sini benar-benar tidak pehatian dengan tempat ibadahnya. Tapi prasangka itu berubah seratus delapan puluh derajad saat penulis masuk dan mencoba melebur kedalamnya.
Penulis sangat terkaget-kaget melihat keindahan energi dari langgar yang sangat sederhana ini. Mulai dari kemerduaan suara imamnya, bagaimana jama’ahnya menyikapi persoalan hidup, semangat mereka dalam mencari dan memaknai kehidupan benar-benar membuat penulis sangat kagum. Ada sebuah kejadian yang sangat menarik saat penulis ber-bincang bincang dengan salah satu jama’ah. Pada waktu itu hujan begitu deras dengan kilat yang menyambar-nyambar, bergemuruh bersaut-sautan membuat suasana semakin menarik. Saat asyik-asyik mengobrol datanglah petir yang sangat besar, sangking besar-nya sampai memutuskan bola lampu yang ada diserambi langgar.
Saat itu juga si jama’ah yang penulis ajak bicara ini, dengan cepat memutuskan aliran langgar dan langsung pulang mengambil bola lampu yang baru. Beliau menerobos hujan yang begitu deras dan lebat. Dan kembali lagi dengan penuh semangat memasang kembali bola lampunya. Penulis bicara dalam hati, kenapa beliau begitu nekat? Sampai saat ini-pun penulis belum mendapat jawabannya. Ya biarlah itu menjadi misteri selamanya untuk diri penulis sendiri.
Esok harinya, pagi-pagi sekali saat mau berangkat sholat shubuh. Penulis ingin mencari masjid yang agak besar. Setelah berjalan sekitar sepuluh menit, akhirnya penulis sampai kepada sebuah masjid yang lumayan besar. Berbeda dengan langgar yang kemarin temui. Disini penulis sangat kaget adzan shubuh sudah berkumandang, tapi di masjid ini sangat sepih tidak ada orang sama sekali. Bahkan setelah penulis tunggu agak lama sekitar 15 menit, tidak ada satupun jama’ah yang datang. Akhirnya penulis sholat sendiri dan sampai penulis meninggalkannya tidak ada satu jama’ah pun yang datang. Sungguh sangat menarik negeri ini, di satu sisi langgar yang reyot ada jama’ah yang begitu bersemangat dan di sisi lain masjid yang lumayan bagus tidak begitu terlihat aktivitasnya.
Itu tadi pengalaman penulis merasakan dan melebur kedalam energi tentang ke-agamaan. Sekarang penulis mencoba untuk mempelajari, merasakan dan syukur-syukur bisa melebur kedalam energi yang lain. Pagi-pagi setelah sholat Shubuh penulis melanjutkan petualangan-nya untuk mengenal daerah sekitar. Berjalan dan terus berjalan setapak demi setapak melewati pekarangan penduduk. Berjalan dengan hati riang gembira sambil menikmati semua anugerah yang diberikan Allah kepada penulis dan negeri ini. Tak terasa penulis sampai di ujung jalan. Banyak orang-orang baik laki-laki maupun perempuan, tua-muda berkumpul, berbaris dan melakukan sebuah pekerjaan yang sama. Penulis bertanya dalam hati, apa ya yang sedang mereka lakukan? Setelah melihat lebih dekat ternyata eh ternyata mereka sedang menanam padi. Yang lebih menarik lagi, gerakan saat menanam, berjalan mundur, bergerak bersama sehingga terlihat harmonisasi yang begitu indah. Dan itu tidak ada yang memandu, seakan-akan hati mereka telah menyatu dan menjadi satu.
Sungguh sebuah pembelajaran yang sangat baik. Bagaimana menyelaraskan hati, pikiran dan gerakan sehingga menjadi sebuah gerak yang begitu harmonis. Indonesia memamng sudah lama memiliki kosa kata ” selaras” dari kata laras. Merupakan sebuah kumpulan dan tempaan budaya yang begitu lama dan tua sehingga terbentuknya keselarasan yang diperlihatkan oleh para petani-petani negeri ini. Mari kita mengkhayal sejenak, jika contoh yang di berikan oleh petani-petani tadi kita bahwa ke kehidupan kita masing-masing. Menyelaraskan perbedaan-perbedaan yang ada tanpa menghilangkan perbedaan yang ada. Indonesia sangat membutuhkan jati diri ”keselarasannya” yang sejati. Keselarasan itu sudah tertutup oleh kotoran-kotoran kesombongan, kedengkian dan merasa benar sendiri. Biarkan perbedaan yang ada, tugas kita hanya merangkai perbedaan-perbedaan itu agar terlihat indah dan berguna.
Penulis sungguh sangat-sangat tidak setuju jika seluruh bangsa Indonesia di-katakan pemalas. Kenapa? Jika kita melihat contoh yang diberikan oleh para petani di negeri yang penulis singgahi ini, kita bisa melihat keuletan dan semangat juang mereka, terlebih lagi keindahan yang ditunjukkannya. Apakah orang yang malas itu bekerja pada saat jam 5 pagi sampai sore? Tidak ada yang malas dalam diri bangsa ini, yang ada hanya-lah kemauan untuk menang sendiri. Itulah yang harus kita perbaiki. Ngomong-ngomong masalah pertanian negeri ini, sungguh sangat menyayat hati.
Lahan pertanian di negeri penulis tempati ini, perlahan-lahan mulai kehilangan eksistensinya. Di babat habis oleh sang raja minyak, dan penduduknya akan diarahkan kepada pengembangan ternak. Pertanyaan-nya apakah semudah itu mengganti kebiaasaan bercocok tanam dengan berternak? Sudahkah penguasa menghitung berapa biaya yang akan kita keluarkan? Harapan penulis semoga penguasa sudah menghitungnya.

LEBIH HEBAT DARI LASKAR PELANGI
Ingatkah para pembaca cerita tentang laskar pelangi? Sebuah cerita yang menitik berat-kan kepada anak-anak muda yang berjumlah 10 orang. Mereka berjuang keras untuk mendapatkan pendidikan dengan fasilitas yang sangat minim. Penulis teringat bagaimana mereka berjuang, dengan membeli kapur di sebuah tokoh yang berjarak 10 km. Juga bagaimana salah satu dari mereka yang merupakan anak nelayan, harus rela menempuh jalan berliku untuk bisa sampai ke sekolah. Itulah gambaran anak-anak Indonesia yang mempunyai semangat juang untuk menuntut ilmu.
Kondisi yang mirip penulis temui di negeri ini, anak-anak yang sangat bersemangat dalam menuntut ilmu. Dengan fasilitas yang terbilang sangat minim mereka tetap semangat bahkan over semangatnya untuk menuntut ilmu. Terus terang soal semangat penulis kalah jauh dengan mereka dan penulis sangat iri dengan semangat mereka.
Sekolahan anak-anak yang penuh semangat ini terletak di daerah yang sangat pelosok di negeri ini. Sekitar 2,5 km dari rumah penguasa negeri ini. Jalan berliku-liku, kalau hujan sepeda motor tidak bisa melewatinya. Meskipun sarana transportasi disana sangat jelek, tapi pemandangan di kiri dan kanan sungguh sangat mengasyikkan. Penulis membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk mencapai tempat tersebut. Penulis harus berjalan kaki, dikarenakan sepeda motor tidak bisa melewati daerah tersebut. Setelah melalui perjalanan yang lumayan berat penulis sampai juga ke tempat tujuan. Huffff, sangat capek, lelah dan haus seakan sirna melihat sambutan dan semangat para ganext (gayam next generation).
Gedung bangunan ini sungguh sangat memprihatinkan. Dari segi bangunannya mungkin lebih baik dari pada bangunan laskar pelangi. Tapi untuk fasilitas mulai dari buku sampai para guru-nya mungkin lebih jelek (pandangan subyektif penulis). Jika di laskar pelangi para gurunya begitu bersemangat dan ikhlas untuk mentransfer ilmunya kepada para siswanya, di gayam para gurunya jarang masuk atau bahkan kurang memperdulikan para ganext.
Akhirnya penulis diperkenankan mengajar para ganext yang penuh semangat tadi. Jumlah keseluruhan dari para ganext hanya 6 orang, 3 orang laki-laki dan 3 orang wanita. Lagi-lagi penulis berburuk sangka kepada para ganext. Penulis berpikir mereka adalah para murid yang bodoh lagi malas. Setelah penulis masuk dan menyapa mereka, apa yang terjadi? Energi dan semangat juang untuk belajar benar-benar sangat luar biasa. Begitu besarnya sampai penulis ingin sekali memiliki dan dianugerahi energi sebesar itu.
Setelah menyapa para ganext-ganext ini, penulis mulai mengajari tentang matematika dan IPA. Setelah sekitar 10 menit penulis menerangkan, dan penulis melemppar sebuah pertanyaan apa yang terjadi? Sungguh sangat mengejutkan mereka bisa menjawab dengan sangat baik, bahkan ketika penulis suruh maju dan menerangkan kembali kepada para teman-temannya para ganext-ganext ini bisa menerangkan dengan sangat luar biasa. Sungguh sangat mempesona sekali dan cahaya potensi para ganext-ganext ini begitu menyilaukan.
Sungguh sangat disayangkan jika pendidikan di negeri ini diabaikan. Cahaya-cahaya yang sangat-sangat berkilau merupakan modal yang sangat luar biasa. Penulis-pun mulai berpikir apakah memang faktor fasilitas gedung yang mewah merupakan faktor utama menjadikan para siswa menjadi pandai? Ataukah faktor budaya dan guru yang penuh semangat dan ikhlas untuak menyalurkan ilmunya, yang merupakan faktor utama untuk memajukan para siswa? Atau-kah berbagai macam faktor lain seperti, semangat, dukungan orang tua atau kurikulum? Indonesia harus mencari dan menentukan jawaban dari dalam bangsa ini sendiri, menggali, memahami, merasakan dan melebur kedalam jawaban itu sendiri. Tanpa semua itu kurikulum bagaimanapun, fasilitas bagaimanapun, guru bagaimana-pun tidak akan berdampak apa-apa? Tetaplah bersemangat para ganext-ganext kalian semua adalah cahaya-cahaya yang menyinari negeri ini. Terimah kasih sudah mengajarkan kepada penulis energi semangat kalian. Tetaplah bersinar dan terus bersinar. Wahallahhu’alam.

31/01/10

KALIMANTAN OH KALIMANTAN

Lama juga ya tidak menulis dan mengobrol bareng ama teman-teman. Habisnya ngedobos sibuk dengan urusan ini dan itu yang menyita waktu( Alasan mode on). Yap mari kita ngobrolin masalah pulau terbesar di Indonesia, yang akhir-akhir ini sedang ramai dibicarakan. Kalimantan merupakan pulau yang sangat kaya raya dengan topografi lahan gambut yang begitu luas. Belum lagi hutan yang lebat meskipun banyak yang gundul. Hasil tambangnya yang besar mulai Batu bara, minyak bumi, intan dan masih banyak lagi lainnya.
Pada era 1980-an, Kalimantan merupakan pemasok terbesar ekspor kayu Indonesia. Apakah kita masi ingat dengan cukong-cukong kayu seperti Bob Hasan, Lim Sweiling, dan konco-konconya, merekahlah yang seharusnya di-adili sebagai perusak lingkungan nomer-1. Dampaknya bisa kita rasakan hari ini. Sekarang, mari kita bergeser pada jaman sekarang, apakah penebangan hutan masih menjadi primadona?
Jawabannya adalah tidak. Setelah reformasi 1998/1999, penebangan hutan menurun dan digantikan oleh penambangan batu-bara yang kapasitas penambangannya bisa mencapai lebih dari 200 juta ton/tahun. Luar biasa, Ngedobos tidak bisa membayangkan berapa banyak ya jumlah dari 200 juta ton itu?
Dengan hasil yang begitu besar maka otomatis akan menaikkan pendapatan. Tidak usah kita bicara tentang GDP/GNP kita bicara skup lokal saja. Jika pendapatan bertambah maka otomatis kesejahteraan masyarakat sekitar akan meningkat. Begitu perkataan dari para pakar ekonomi. Kenyataannya? Penduduk Kalimantan tetap miskin. Jadi benarkah kita harus memacu pertumbuhan ekonomi atau memacu pemerataan ekonomi alias meratakan distribusi pendapatan?
Selain masalah perekonomian, masyarakat Kalimantan dihadapkan pada kelangkaan energi, terutama masalah energi listrik. Menurut Dinas Pertambangan dan Energi Kalsel mencatat, ada 222 desa yang belum teraliri listrik di derah ini( kompas, 26/01/10). Warga hanya bisa melihat cahaya benderang dari lubang-lubang tambang yang terus dikeruk selama 24 jam. Sungguh sangat ironis sekali, daerah penghasil energi kekurangan energi? Seperti pepatah yang mengatakan Ayam mati diatas tumpukan padi. Kalimantan betapa malang nasib-mu.
Maka untuk menyiasati kekurangan pasokan listrik tersebut, masyarakat membangun pembangkit tenaga listrik mikrohidro(PLTMH) di dekat kampung mereka. Sungguh sangat ironis mengapa pemerintah tidak pernah memperhatikan hal ini? Menurut Direktur Eksekutif WALHI Kalimantan Selatan Hendra Wahyu menilai, Loksado jantung ekologi pegunungan Meratus, yang kelestariannya sampai saat ini masih masih terjaga. Salah satu potensi yang menghidupinya adalah keberadaan sungai-sungai di Haratai, misalnya, air dari empat sungai dari gunung Kayuan dialirkan kerumah generator guna memutar turbin. Hasilnya, daya listrik mikhrohidro itu mencapai 17.000 watt.
Krisis pulau Kalimantan hampir menyebar diseluruh provinsi yang ada di Kalimantan. Ngedobos ambil contoh provinsi Kalimantan Timur saja. Provinsi terbesar di Kalimantan ini mempunyai masalah akut yang sangat mendasar yaitu tidak bisa memenuhi kebutuhan pangan-nya sendiri. Kaltim harus mendatangkan 200.000 ton beras dari Sulawesi Selatan dan Jawa. Sekitar 83% kebutuhan proteinnya juga dipasok dari luar daerah. Bahkan Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kaltim, Tahun lalu, mengumumkan kehilangan 12.000 Ha lahan sumber pangan setiap tahun.
Angka penduduk hidup di bawah garis kemiskinan hingga Maret 2007 sekitar 325.000 jiwa atau 11% dari total jumlah penduduk. Meningkat dari tahun sebelumnya, yang berjumlah 230.000 jiwa. Dan ironisnya mereka berada didekat daerah pertambangan. Dan salah satu perusahaan yang bermain disana adalah PT Kaltim Prima Coal anak dari Perusahaan Bumi Resources perusahaan keluarga Ketua umum Golkar sekarang.
Nah setelah panjang lebar Ngedobos memberikan gambaran tentang “sedikit” permasalahan dari Kalimantan, sekarang mari kita analisa informasi diatas melalu pendekatan Ilmu ekonomi dan Ilmu konservasi. Nah selamat menikmati ya 
Pertama-tama Ngedobos akan memulai dulu dengan analisa ekonomi melalui pendekatan Ekonomi Regional. Dengan pendekatan pada teori model basis Eksport ( export-base model). Apa itu model basis eksport, segera kita bahas.

Model Basis Eksport
Model ini mula-mula diperkenalkan oleh Dauglas C. North pada tahun 1956. Menurut model ini, pertumbuhan suatu daerah ditentukan oleh keuntungan kompetitif( competitive advantage) yang dimiliki oleh daerah bersangkutan. Jika suatu daerah dapat ber-spesialisasi dengan keuntungan kompetitive-nya, maka daerah tersebut akan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerahnya sendiri. Hal ini dikarenakan, peningkatan ekspor akan memberikan multiplier effect kepada perekonomian daerah.
Model ini, sangat dipengaruhi oleh 2 sektor perekonomian regional, yaitu : Sektor basis dan sektor Non-Basis. Sektor Basis adalah sektor yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah. Sedangkan sektor non-basis adalah sektor perekonomian lain-lain yang kurang potensial tetapi berfungsi sebagai penunjang sektor basis. Otomatis kegiatan sektor non-basis ini sangat ditentukan oleh sektor non-basis.
Kita lihat dalam kasus Kalimantan secara umum, apa yang menjadi komoditi unggulan disana? Tak lain adalah barang tambang. Kita anggap barang tambang ini adalah sektor Basis, dimana kinerja sektor ini akan sangat mempengaruhi kinerja sektor non-basis, misalnya pertanian dalam artian sempit(Persawahan). Mengapa lahan pertanian di Kalimantan Timur bisa berkurang? Secara kasar hal ini bisa Ngedobos jawab karena Sektor pertambangan meningkat secara cepat sehingga mengurangi lahan pertanian. Logikanya jika pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan oleh barang tambang meningkat, maka akan terjadi penurunan hasil produksi pada sektor pertanian, itu masih bisa diterima secara teori.
Tapi ada satu hal yang membuat Ngedobos merasah aneh melihat kasus Batu Bara ini, yaitu masalah Multiplier efect-nya entah itu peningkatan kesejahteraan, kecukupan energi atau peningkatan lapangan pekerjaan. Tapi kenyataan-nya hal tersebut tidak terjadi bahkan sangat kecil( Hanya kira-kira, karena tidak mempunyai data yang lengkap), inilah yang menyebabkan permasalahan berkepanjangan di daerah Kalimantan.

Sumber Masalah atau Sumber Keuntungan?
Batu bara di bumi Borneo yang begitu banyak sungguh sangat menarik minat kontraktor-kontraktor besar. Menurut para ahli Batu Bara mempunyai dampak polusi yang lebih besar dari pada minyak bumi. Kandungan gas Sulfur yang tinggi sangat berpotensi untuk menurunkan hujan asam sulfur dioxide yang akan merusak tanaman dan lingkungan. Selain itu hasil pembakaran dari batu bara ini mengeluarkan gas rumah kaca lebih besar dari minyak bumi.
Berangkat dari pernyataan diatas, maka sebuah proses produksi dan konsumsi tidak hanya menghasilkan keuntungan dan kepuasan kepada pengguna, namun juga menghasilkan residual atau limbah. Mulai dari kerusakan lingkungan daerah pertambangan sampai kerusakan udara akibat proses pembakaran. Residual tidak bisa kita lepaskan dari kegiatan ekonomi, apa-pun itu.
Nah, kebanyakan perusahaan tambang di dunia tidak pernah atau tidak mau tahu tentang dampak lingkungan ini. Maka tidak heran mengapa daerah penghasil energi, bisa kekurangan energi. Dampak sosial dan lingkungan ditanggung oleh masyarakat. Keuntungan ditanggung perusahaan. Dari prespektif ilmu ekonomi, hal ini bukan saja dilihat dari hilangnya nilai ekonomi sumber daya akibat berkurangnya kemampuan sumber daya secara kualitas untuk menyuplai barang dan jasa. Tetapi juga dampak pencemaran terhadap kesejahteraan masyarakat. Maka yang bisa dilakukan oleh pemerintah dan perusahaan adalah mengendalikan pengendalian tingkat pencemaran sampai se-efisien mungkin, dan ini membutuhkan biaya yang sangat besar. Pertanyaan-nya maukah pemerintah mengawasi? Dan perusahaan secara sukarela untuk melakukan hal tersebut?

Penutup
Permasalahan Kalimantan tentang Sumber Daya Alam ini, merupakan salah satu permasalahan dari masalah-masalah sumber daya alam di Indonesia. Dan inilah menurut Ngedobos sebagai The real case economic in Indonesia, kasus Century? Hah, tidak ada apa-apanya dibandingkan kasus Sumber Daya alam di Indonesia. Kasus ini akan terus berulang dan berulang kembali dikarenakan, permintaan energi di Indonesia akan terus dan terus meningkat. Industrialisasi Indonesia yang sedang dibangun saat ini pasti sangat membutuhkan energi yang besar. Belum lagi kewajiban kita memenuhi pesanan-pesanan permintaan luar negeri, bisa dihitung berapa besar energi yang dibutuhkan?
Untuk dapat meminimalkan konflik, pemerintah harus memperhatikan : 1. Jenis-jenis sumber daya energi apa saja yang perlu diproduksikan, ditawarkan di pasar dan dikonsumsi masyarakat. 2. Pada harga berapa masing-masing jenis sumber daya energi itu dipasarkan. 3. Dengan tingkat berapa saja masing-masing sumber daya energi dihasilkan dan dimanfaatkan. 4. Sarana apa saja yang dapat digunakan untuk mempengaruhi-nya. 5. Bagaimana dampaknya bagi lingkungan dan masyarakat sekitar?
Hal penting lainnya adalah konservasi sumber daya energi. Kebijaksanaa konservasi bertujuan untuk memelihara kelestarian sumber daya energi yang ada melalui penggunaan sumber daya secara bijaksana bagi tercapainya keseimbangan antara pembangunan, pemerataan dan pengembangan lingkungan hidup. Ngedobos hanya bisa berdoa semoga Bangsa Indonesia sadar mana hal yang penting untuk memajukan Negara ini. Jangan mementingkan hal yang remeh dan Meremehkan hal yang penting. Tetap meng-Allah-kan Allah. Memanusia-kan manusia dan Meng-Alamkan-alam. Wallahua’lam.

MEMBANGUN KEMANDIRIAN EKONOMI DAN NILAI RUPIAH YANG KUAT

Untuk membangun ekonomi suatu Negara yang demokratik
Maka satu ekonomi merdeka yang harus dibangun. Tanpa
Ekonomi merdeka tak mungkin, tak mungkin kita mencapai
Kemerdekaan, tak mungkin kita tetap hidup( Ir Sukarno)

Indonesia saat ini mengalami sebuah kelemahan sturktural dan daya saing perekonomian-nya. Hal ini bisa kita lihat dari kekuatan produktifnya lebih kecil dari daripada kekuatan konsumtifnya. Sektor industri yang masih didominasi oleh asing, membuat perekonomian kita jauh dari kata kemandirian dan kemerdekaan. Kita lihat mulai sektor hulu sampai sektor hilir semua sektor industri banyak yang dikuasai oleh perusahaan multi national. Sebagia contoh yang sangat sederhana, bila kita masuk ke sebuah supermarket atau warung-warung kecil dipinggir jalan, kita bisa menghitung berapa banyak produk asli buatan Indonesia adakah 50% nya?
Kita adalah sebuah Bangsadengan sejarah yang sangat panjang, bahkan bisa jadi kita adalah Bangsa yang tertua peradabannya. Sudah menjadi sifat orang yang sudah berumur, kekuatan, kesehatan dan daya pikirnya pasti sudah menurun. Begitukah kondisi sebuah Negara dan Bangsa Indonesia? Keunggulan kompetitife dan komparative apakah sudah memasuki usia yang uzur? Jika jawaban diatas berkata “ Ya” bisa kita hitung berapa keturunan lagi Bangsa yang sudah tua ini akan mengakhiri kontraknya di dunia.
Sejak awal kemerdekaan, telah digariskan oleh para founding father Negara ini bahwa kemandirian sejati merupakan cita-cita nasional yang harus diwujudkan. Penafsiran penulis, kemandirian yang dimaksud oleh para founding father kita adalah: terbebasnya Negara ini dari segala ketergantungan, baik ekonomi, sosial, teknologi dan budaya. Semua hal tersebut bisa dicapai bila Negara ini sudah merdeka secara ekonomi. Tanpa kemerdekaan ekonomi mustahil kita bisa menjadi Negara yang maju.
Perpindahan kekuasaan dari orde lama ke orde baru memunculkan sebuah ide perlunya kita memperoleh pinjaman luar negeri. Bersamaan dengan itu muncul pula gagasan tentang bagaimana kita berhati-hati terhadap pinjaman luar negeri( Sri-Edi Swasono; 2003).
Pinjamin luar negeri yang tidak diatur ini-lah awal mula kita terperosok kedalam lubang perekonomian. Kita bisa melihat betapa arogan dan sombongnya utusan dari IMF yang bertolak pinggang dihadapan President Soeharto. Hal ini menandakan begitu kuat-nya dampak pinjaman luar negeri terhadap kemundurun daya saing perekonomian kita.
Pada bulan Agustus 1997 saat di Indonesia belum terjadi krisis ekonomi. Saat itu kita bisa melakukan langkah-langkah mendevaluasikan Rupiah untuk mengantisipasi overvalued rupiah. Tapi atas desakan IMF , BI mengubah transaksi mata uang rupiah yang sebelumnya diambangkan terkendali kemudian dibiarkan secara bebas (free float). Hal ini mengakibatkan mata uang kita menjadi semakin fluktuatif dan kemudian membuat masyarakat kita menjadi panik( Rizal Ramli: 2007).
Memang faktor-faktor yang menyebabkan nilai tukar rupiah bisa naik atau turun sangat-lah banyak. Dari faktor-faktor yang demikian banyak-nya itu, banyak sekali yang bersifat psikologis. Dapat kita bayangkan betapa besar kebingungan masyarakat pada saat krisisis ekonomi 1997/1998( Kwik kian Gie: 2001).
Krisis ekonomi 1997/1998 juga memperlihatkan kebutuhan untuk mengadakan peninjauan kembali terhadap arsitektur sistem moneter nasional. Untuk mencegah terulangnya kembali krisis ekonomi dimasa mendatang, otoritas moneter Indonesia harus menyusun kerangka kerja yang lebih memperhitungkan dampak-dampak jangka panjang terhadap perekonomian Indonesia.

Teori Area Mata Uang Optimum ( Optimum Currency Areas)
Teori mata uang optimum untuk pertama kalinya dikembangkan oleh Mundel dan McKinnon selama tahun 1960-an. Versi sederhana dari teori ini mengasumsikan dua daerah - A dan B - masing-masing memproduksi suatu barang. A demand shift caused by a change in preferences from the goods produced by A to the goods produced by B (ie an asymmetric shock), will lower demand in A, raising unemployment and causing a trade imbalance; while inflation will increase in B (see Figure 1). Sebuah perubahan permintaan yang disebabkan oleh perubahan dalam preferensi dari barang yang diproduksi oleh A untuk barang-barang yang diproduksi oleh B (yaitu, sebuah kejutan asimetris), akan menurunkan permintaan dalam A, meningkatkan pengangguran dan menyebabkan ketidakseimbangan perdagangan, sedangkan inflasi akan meningkat dalam B (lihat Gambar 1). In such a situation, a common monetary policy cannot solve the problems of both economies at the same time. Dalam situasi seperti ini, yang umum kebijakan moneter tidak dapat memecahkan masalah-masalah ekonomi, baik pada waktu yang sama. A restrictive monetary policy (S up) might reduce inflation in B, but worsen the unemployment problem in A. An expansionary monetary policy (S down) would reduce unemployment in A, but worsen inflation in B. Sebuah kebijakan moneter ketat (S atas) bisa menurunkan inflasi di B, tapi memperburuk masalah pengangguran dalam A. Sebuah kebijakan moneter ekspansif (S ke bawah) akan mengurangi pengangguran di A, tapi memperburuk inflasi di B.
The disekuilibrium disebabkan oleh shock karena itu akan memerlukan perubahan dalam harga relatif untuk mengembalikan keseimbangan sebelumnya. If the two regions have separate currencies, this can be achieved by altering the exchange rates: ie by a devaluation of currency A vis à vis currency B. Country A would then recover its competitive position through lower real wages and prices (though nominal wages and prices would remain constant). Jika kedua daerah memiliki mata uang yang terpisah, ini dapat dicapai dengan mengubah kurs: yaitu oleh devaluasi mata uang A vis à vis mata uang B. Negara A kemudian akan pulih dengan posisi kompetitif melalui upah riil yang lebih rendah dan harga (walaupun upah nominal dan harga akan tetap konstan). Demand would rise (D upshift) and unemployment fall. Permintaan akan naik (D upshift) dan pengangguran turun.
Namun jika, kedua wilayah memiliki mata uang bersama atau mempertahankan nilai tukar tetapnya. Maka untuk memulihkan produksi dan lapangan kerja pada Negara A bisa menggunakan cara-cara berikut ini :
Penurunan upah nominal dan harga
Pergeseran kurva supply dari rumah produksi
Kebijakan fiskal ekspansif
Pembentukan sebuah area mata uang optimum akan lebih berpotensi memberikan
berbagai manfaat optimal, jika syarat-syarat berikut terpenuhi:
Adanya mobilitas sumber daya yang cukup tinggi
Adanya kemiripan struktural diantara mereka
Adanya kesediaan politik untuk mengkoordinasikan kebijakan-kebijakan yang terkait dengan hal ini.
Menurut Tower dan Willet ( Dalam Lukita dan Yahya, 2003) “ berarumentasi bahwa analisa OCA sebaiknya dipertimbangkan sebagai suatu pen- dekatan, bukan sebagai suatu teori yang lebih spesifik. Oleh karena itu, penerapan sistem nilai tukar bedasarkan kriteria-kriteria diatas tidaklah sesuatu keharusan yang mengikat, melainkan sebagai kerangka dasar pendekatan ekonomi untuk menentukan suatu sistem nilai tukar”.
Hal ini disebabkan tidak ada satu Negara-pun didunia ini yang mempunyai struktur ekonomi yang sama. Mungkin bagi kawasan Eropa mereka memiliki banyak sekali kemiripan dalam struktur ekonominya, tetapi jika kita terapkan pada Kawasan Asia tenggara terutama Indonesia hal ini jelas akan merusak daya saing perekonomian kita.

Teori Stolper-Samuelson
Wolfgang dan Samuelson telah membuktikan bahwa perdagangan membagi suatu Negara, yang di satu pihak terdiri dari orang-orang yang benar-benar menerima manfaat dari perdagangan dan di pihak lainnya terdiri dari orang-orang yang dirugikan dengan asumsi tertentu . Asumsi yang dikemukakan oleh mereka berdua adalah : Suatu Negara menghasilkan dua barang dengan dua faktor produksi( Lahan dan Tenaga kerja).
Dari asumsi diatas Stopler dan Samuelson berargumen bahwa, peralihan dari tidak adanya perdagangan ke arah perdagangan bebas pasti akan meningkatkan penghasilan yang diperoleh faktor produksi yang digunakan secara intensif dalam industri yang harganya meningkat ( lahan) dan menurunkan penghasilan faktor produksi yang digunakan secara intensif dalam industri yang harganya menurun( tenaga kerja), tanpa memandang barang mana yang lebih disenangi untuk dikonsumsi oleh para penjual kedua faktor produksi diatas.
Maka jika berpijak pada teori Stopler dan Samuelson suatu perdagangan bebas akan mengakibat tradeoff disatu sisi manfaat faktor produksi A meningkat dan disatu sisi manfaat fakro produksi akan mengalami penurunan. Jika kita hubungkan dengan kasus perdagangan Indonesia-Cina, akan kita lihat siapa yang akan diuntungkan dan dirugikan. Apakah Indonesia dengan komoditas bahan mentahnya ataukah Cina dengan kemampuan menjiplak suatu barang.


Teori Pertumbuhan
Setelah membahas masalah penetapan nilai tukar dan melihat adanya tradeoff dari kegiatan perdagangan bebas, kita beralih kepada teori pertumbuhan. Teori prtumbuhan ekonomi menyatakan faktor-faktor apakah yang menentukan laju pertumbuhan output penggunaan tenaga kerja dari waktu ke waktu. Teori pertumbuhan penting karena membantu menjelaskan tentang laju perumbuhan dan menjawab pertanyaan tentang mengapa tingkat pendapatan per kapita berbeda antar Negara.
Salah satu kesimpulan pokok dari teori pertumbuhan adalah adanya proposisi bahwa antara dua Negara dengan teknologi dan tingkat tabungan yang sama, maka Negara yang memiliki laju pertumbuhan penduduk yang lebih tinggi pada akhirnya akan mempunyai pendapatan per kapita yang lebih rendah. Untuk mengetahui bagaimana proses pertumbuhan terjadi maka kita pergunakan formulasi yang sederhana dengan mengasumsikan tenaga kerja konstan dan tertentu, ΔN/N = n, dan tidak ada kemajuan teknologi ΔA/A = 0.
Maka satu-satunya elemen variabel yang tersisa adalah laju pertumbuhan modal. Maka kita dapat mendefinisikan jumlah output per kapita sebagai x = Y/N dan jumlah modal per kapita atau rasio modal-tenaga kerja sebagai k = K/N.
Mengapa memperkuat nilai tukar rupiah ini begitu penting? Karena nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing mencerminkan daya beli masyarakat Indonesia. Jika nilai tukar rupiah kita sedang tinggi itu berarti daya beli masyarakat sedang meningkat. Begitu juga sebaliknya, jika nilai tukar kita melemah maka daya beli kita juga sedang melemah.
Menentukan nilai tukar murni yang teoritis tidaklah mudah. Kita harus menentukan sekeranjang barang dan jasa yang mewakili kebuthan masyarakat dari dua Negara yang berbeda. Sekelompok barang ini kita bandingkan berapa Dollar yang dapat dibeli orang Amerika dan berapa Rupiah yang dapat dibeli oleh orang Indonesia. Setelah itu, dua angka ini dibagi, dan itulah nilai tukar murni yang didapat
Untuk memakai konsep diatas sangatlah sulit dan membutuhkan waktu yang lama. Maka kita gunakan pendekatan OCA. Maka berdasarkan kriteria-kriteria OCA, tingkat keterbukaan perekonomian suatu Negara merupakan satu faktor penting dalam pemilihan sistem nilai tukar. Makin terbuka suatu perekonomian semakin besar pula perubahan money income-nya dan makin kecil pengaruhnya terhadap deflasi/inflasi.
Dalam analisis OCA tidak ada satupun sistem nilai tukar yang tepat untuk dipakai dalam semua Negara dalam kondisi dan waktu kapanpun. Untuk menentukan sistem apa yang cocok dipakai, suatu Negara harus melihat faktor-faktor pendukungnya seperti: keterbukaan ekonomi, besarnya perekonomian, tingkat mobilitas modal, tingkat inflasi, tingkat integrasi pasar, kebijakan fiskal dan kebijakan moneter.
Maka untuk menguatkan nilai tukar rupiah pemerintah harus membangun struktur-struktur ekonomi diatas secara berkesinambungan. Dengan memilih arah kebijakan perekonomian kita, mau berspesialisasi dibidang apa. Dengan begitu kita mempunyai dasar fundamental untuk menguatkan nilai tukar rupiah. Semakin baik nilai tukar Rupiah maka akan stabil kebijakan makroekonomi Indonesia.


Membangun Kemandirian Ekonomi
Dalam perputaran roda perekonomian di Indonesia, sebagian besar ada ditangan bangsa asing, yang ada ditangan bangsa Indonesia sendiri hanya usaha produksi yang berdasarkan atas alam pemikiran yang sederhana. Akibatnya rakyat Indonesia menjadi sapi perah dari para cerdik pandai bangsanya sendiri dan menjadi sapi perah seluruh dunia yang membeli barang-barang hasil produksi yang murah.
Kita ambil contoh sektor pertanian kita dalam artian luas. Sudah penulis jelaskan panjang lebar masalah perekonomian sektor pertanian dalam makalah penulis terdahulu pada saat UTS. Analisa kali ini hanya menambahkan saja apa yang kurang dari tulisan sebelumnya.
Dalam teori diatas yakni teori dar Samuelson-Wolfgang dan teori pertumbuhan. Dua-duanya dapat disimpulkan bahwa perkonomian suatu Negara harus mempunyai teknologi dan tabungan yang tinggi untuk dapat menikmati hasil perdagangan bebas. Sekarang mari kita lihat apakah hal ini sudah dipenuhi pada sektor pertanian kita?
Sektor pertanian merupakan penopang terbesar dan penyerap tenaga kerja yang sangat besar. Tapi apa yang terjadi? Sebagai sektor yang begitu diandalkan, hasilnya dari tahun ke tahun semakin menurun. Banyak anak muda yang sudah tidak mau lagi bekerja disektor pertanian, karena hasil yang didapat sangat sedikit. Hal ini selaras dengan apa yang dikatakan oleh Lewis tentang pertumbuhan dua sektornya, “ Bahwa masyarakat yang bekerja disektor pertanian akan berbondong pindah ke sektor industri disebabkan perbedaan upah yang begitu tinggi”. Jika kejadian ini kita biarkan saja maka yang sangat penulis takutkan ramalan Malthus akan terbukti.
Indonesia masih bisa untuk mencegah terjadinya kelaparan jika kebijakan perekonomiannya kembali kepada keunggulan kompetitive dan komperatifnya. Apa keunggulan kompetitive dan komparative Perekonomian Indonesia, menurut penulis keunggulan itu terletak pada sektor pertaniannya, mulai dari tanah yang subur sampai lautan yang kaya akan sumber protein. Tak heran jika Prof Arysio Santos menyebut Indonesia sebagai surga dunia, awal dari segala peradaban dunia atau lebih dikenal dengan sebutan Atlantis.
Kembali kepada keunggulan kompetitive dan komperativnya tidak boleh disikapi dengan pemikiran textual. Harus disikapi dengan pemikiran yang dinamis. Kalau memang kondisi pertanian tidak memungkinkan untuk mekanisasi, maka bisa kita dirikan koperasi yang bergerak dibidang pengolahan, kita perbaiki rantai distribusi dan mengajarkan teknik pemasaran yang bagus.
Jika teori diatas mengasumsikan tidak ada perubahan teknologi, maka kita masukkan variabel teknologi untuk memperkuat perekonomian dalam negeri. Teknologi digunakan untuk membantu meningkatkan hasil-hasil produksi pertanian dan industri Indonesia. Tanpa teknologi yang memadai, sampai kapan-pun dengan sistem ekonomi apa-pun kita tidak akan pernah mencapai kemajuan ekonomi. Kita hanya bisa menunggu Sebuah unta bisa melewati lubang jarum, sangat mustahil.

. Kesimpulan dan Saran
Sistem OCA memang mempunya beberapa kelemahan, Negara yang bersangkutan tidak akan atau sangat sulit untuk mengukur secara rill seberapa banyak manfaat-manfaat yang dapat diterima. Negara akan kesulitan untuk melihat efek rill dari nilai tukar yang ada, dengan output dan inflasi yang terjadi. Selain itu Negara tidak akan mempunyai independensi untuk membuat suatu program kebijakan untuk mempengaruhi sistem nilai tukarnya.
Dalam kasus Indonesia melalui pendekatan OCA diatas, harus diperbaiki kebijakan-kebijakan moneter dan fiskalnya untuk menggerakkan sektor rill dan kemudian dapat secara berangsur-angsur menguatkan nilai tukar Rupiah ke arah yang lebih menguntungkan Indonesia. Membangun sistem nilai tukar rupiah yang kuat dan stabil tidak bisa dilakukan tanpa ada sinkronisasi antara sektor moneter dan sektor rill.
Kemandirian sektor rill mutlak sangat diperlukan. Untuk membangunnya Indonesia harus kembali kepada keunggulan kompetitive dan komparitivenya yaitu sektor pertanian. Kita bangun kembali sektor pertanian yang sudah lama tidak dibangun secara serius. Kita bangun k Koperasi-koperasi yang modern. Kita tingkatkan teknologi pengolahannya. Teknik pemasaran dan yang lebih penting lagi adalah penguasaan pasar. Tanpa penguasaan pasar semua output yang sudah dihasilkan akan menjadi percuma.
Indonesia mayoritas penduduknya memeluk agama Islam. Umat Islam Indonesia harus menguasai tiga element dunia yaitu : Penguasaan pasar, Penguasaan pendidikan dan masjid, dan penguasaan kelautan. Sudah bukan jamannya lagi kita berteori tentang Jihad atau apapun yang membodohi akal dan pikiran kita sendiri. Mari Saudaraku sebangsa dan setanah air senantiasa kita tanamkan rasa untuk menguasai Pasar, pendidikan dan laut. Tak lupa tetap MengAllah-kan Allah, Memanusiakan manusia dan mengalamkan alam. Semoga Bangsa ini tetap di Rahmati oleh Gusti Allah. Wallahua’lam.


Daftar Pustaka

Dorbusch, R & Fischer, J. 1990. Macroeconomics: Fourth Edition. McGraw-Hill.Inc. USA.
Goldbert, S.L. 1999. Is Optimum Currency Area Theory Irrelevant for Economies in Transition?. Journal Westview: 45-66.
Hidayat, R.Y & Tuwo, L.K. 2005. Opsi Keseimbangan Nilai Tukar di Indonesia: Mencari kesinambungan Stabilitas. Jurnal Ekonomi Indonesia, 1: 83-117.
Kwik Kian Gie. 2001. Nilai Tukar Rupiah Dan Sepotong “ Big Mac”. Kompas, 8 Agustus 2001.
Lindert & Kindleberger. 1988. Ekonomi Internasional: Edisi ke-8. Erlangga. Jakarta.
Natsir, Mohamad. 1950. Soal-soal Perdagangan dan Perindustrian. Kumpulan Jurnal ESEI, 1 : 275-279.
Ramli, R. 2007. Tak Ada Upaya Kreatif dan Mandiri. Jurnal Info Bank: 133-144.
Swasono, E.S. 2003. Kemandirian Ekonomi. Majalah Perencanaan, 33.
Salvatore. 1996. Ekonomi Internasional: Edisi ke-5. Erlangga. Jakarta.
Willet, Wihiborg & Sweeney. 1999. Exchange Rate Polciy for Emerging Markets Economies. California: Westview.

03/01/10

IBU PERTIWI MENANGIS DIAWAL TAHUN(kasus penambangan pasir besi di desa paseban kecamatan kencong kabupaten Jember)

Ibu pertiwi menangis lagi! Itulah ungkapan yang bisa Ngedobos gambarkan betapa menderitanya ibu pertiwi akibat kelakuan anak-anaknya. Ngedobos tahu kasus ini saat, menikmati liburan dengan my big family mengunjungi saudara jauh yang bertempat tinggal di desa paseben, pada tanggal 30-Desember-2009. Ngedobos berangkat dari Surabaya pada hari Rabu sekitar pukul 16.00 Wib, bersama dengan my big family dan tiba di desa paseban sekitar pukul 22.15 Wib. Setelah bercengkrama dengan Pak-Dhe dan Bu-Dhe, ngedobos diajak cangkruk oleh saudara di Sebuah warung kopi disekitar kediaman Pak-Dhe.
Sungguh tidak menyangka, desa yang tenang dan nyaman, ternyata menyimpan sebuah permasalahan yang begitu besar. Sebuah kasus yang jelas-jelas mempunyai dampak sosial, ekonomi dan sosial yang sangat negatif. Saat di warung kopi itulah, ngedobos diberitahu tentang kasus ini. Dari warung, ngedobos di ajak untuk rapat untuk membahas masalah ini. Tulisan ini tidak akan membahas apa hasil rapat tersebut, hanya mengajak para pembaca berpikir secara obyektif, tentang kasus ini dan mohon bantuan pemikiran dan dukungan untuk masyarakat paseban, kecamatan kencong kabupaten Jember.
Profil Desa
Desa paseban kecamatan Kencong termasuk bagian barat Kabupaten Jember. Jarak ke pusat kecamatan 7 km dengan waktu tempuh kira-kira 0,5 jam. Sedangkan jarak ke pusat kota Jember kira-kira 57 km dengan waktu tempuh kira-kira 2 jam kecepatan normal. Desa ini di sebelah utara berbetasan dengan desa Cakru kecamatan kencong, sebelah selatan Samudra Indonesia, Sebelah barat berbatasan dengan desa Wot Galih kecamatan Yosowilangun kabupaten Lumajang, sedangkan di sebelah timur berbatasan dengan desa Kepanjen kecamatan Gumuk Mas.
Desa paseban mempunyai luas wilayah untuk pemukiman kira-kira 87 Ha, sawah 356 Ha, Ladang 109 Ha, perikanan air tawar 2,75 Ha. desa ini dihuni 2.235 KK, 7.141 Jiwa dengan 1.998 rumah (Hasil sensus desa tahun 2008). Sebagian besar penduduk bermata pencarian dibidang pertanian dalam artian luas( ternasuk melaut), sektor jasa dan sebagian kecil di sektor industri.
Desa ini merupakan daerah penghasil ikan dengan hasilnya 43,5 ton/thn dan hasil panen padi 5,6 ton/ha. Berdasarkan undang-undang nomor 27 tahun 2007 pengolahan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, undang-undang nomer 26 tahun 2007 dan peraturan pemerintah nomer 26 tahun 2008, desa ini termasuk bagian kawasan lindung.
Kronologis Permulaan Kasus
Proses penambangan pasir besi di desa Paseban berawal dari rencana pemerintah untuk menambang pasir besi yang dilaksanakan oleh PT. Agtika Dwi Sejahtera, yang rencananya akan diadakan kontrak kerja selama 35 tahun. Saat diadakan rapat pertama kali antara pemerintah, PT dan masyarakat tidak terjadi titik temu dan hampar seluruh masyarakat menolak diadakannya penambangan pasir besi. Setelah pertemuan yang tidak menghasilkan kesepakatan tersebut, Pihak PT dan pemerintah tetap mengambil sample yang dilakukan sekitar bulan Desember 2008. Selanjutnya camat Kencong melakukan proses sosialisasi pada tanggal 21 Januari 2009 yang mengundang kepala desa dan perwakilan masyarkat dengan surat bernomer 005/30/436.524/2009 bertempat di panti PKK Kecamatan Kencong untuk membahas masalah ini.
Pada tanggal 10 September 2009 dikeluarkan surat No. 540/487/411/2009 oleh Disperindag kepada PT Agtika Dwi Sejahtera dan No. 541.3/056/436.314/2008 kepada Soedarsono Sugih Slamet komisaris utama, perihal ijin untuk keperluan pengambilan sample testing terakhir sebelum mesin-mesin berat dikirim ke Desa ini. Adapun pengambilan sempel sebanyak 15 ton jenis bahan galian pasir.
Pada tanggal 20 Oktober 2009 aparatur desa dan BPD(badan perwakilan masyarakat desa, sejenis dengan DPR tapi hanya tingkat desa) melakukan rapat koordinasi bertempat di ruang rapat sekretariat desa Pasebean dengan agenda menyamakan sikap terhadap tuntutan masyarkat Desa untuk menolak penambangan pasir besi di desa Paseban. Pada tanggal 22 Oktober Kepala Desa mengundang 125 anggota masyarakat untuk keperluan sosialisasi hasil rapat tanggal 20 Oktober 2009. Tapi warga tetap menolak terjadinya eksploitasi kandungan alam tersebut. Setelah rapat usai, terjadilah pembakaran dan pengerusakan base camp dan patok milik PT Agtika Dwi Sejahtera kerena dianggap meresahkan masyarakat desa Paseban. Akibat inseden tersebut terjadi pemanggilan dan penangkapan terhadap 8 orang masyarakat oleh Polres setempat.
Sekarang Ngedobos akan mancoba menganalisa kasus diatas dengan sudut pandang ilmu ekonomi dan ilmu sosial. Silakan pembaca menerjemahkan dan berpikir sendiri.
Nilai Ekonomi Total
Konsep dari nilai ekonomi total dari suatu sumberdaya lingkungan memiliki fondasi dalam kesejahteraan ekonomi. Konsep dari nilai ekonomi menitik beratkan dalam ekonomi kesejahteraan masyarakat, oleh karenanya istilah “Nilai Ekonomi” dan “Perubahan Kesejahteraan” dapat dipakai bergantian. Nilai ekonomi total (TEV) dapat dinyatakan sebagai berikut :
TEV = UV + NUV
Dimana : UV adalah Nilai yang digunakan yang terdiri dari (DUV +IUV + OV) dan NUV adalah Nilai yang tidak digunakan terdiri dari ( XV + BV ), maka nilai ekonomi total dapat dinyatakan sebagai :
TEV = (DUV + IUV+ OV) + (XV + BV )
Dimana : DUV = Nilai langsung yang didapat
IUV = Nilai tidak langsung yang didapat
OV = Nilai opsi
XV = Nilai exsistensi
BV = Nilai warisan
Dilihat dari pendekatan TEV maka sudah sangat jelas bahwa pertambangan akan sangat merugikan masyarakat dan lingkungan. Secara kasar saja bisa dilihat pada model diatas, bahwa ada 2 nilai yang tidak bisa kita ukur dengan uang yaitu nilai Exsistensi dan nilai warisan. Mengapa? Karena nilai exsistensi merupakan nilai yang mencakup secara keseluruhan ketergantungan antara lingkungan sekitar pantai dan kehidupan di daerah tersebut. Nilai warisan malah sangat tidak bisa kita ukur dengan uang. Sekarang siapa yang bisa menghitung berapa besar warisan yang dikorbankan jika eksploitasi tambang jadi dilaksanakan. Berapa nilai sejarah yang hilang, perubahan sosial, keindahan, kenyamanan dan masih banyak nilai warisan yang akan hilang dan itu semua tidak bisa kita ukur dengan uang.
Ekonomi Pencemaran
Dari prespektif ekonomi, pencemaran bukan saja dilihat dari hilangnya nilai sumber daya akibat berkurangnya kemampuan sumber daya secara kualitas maupun kuantitas untuk menyuplai barang dan jasa, namun juga dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat. Maka kegiatan ekonomi apapun pasti menghasilkan pencemaran. Dengan alur logika, semakin besar kegiatan ekonomi yang dilakukan maka semakin besar pula zat sisa yang dihasilkan, nah zak sisa inilah yang menimbulkan pencemaran.
Di dalam ilmu ekonomi ada hukum yang dinamakan dengan the law of marginal dhiminishing return. Jika kita bawa hukum ini sebagai landasan pola berpikir dalam kasus ini, maka semakin lama hasil yang didapat dari eksploitasi akan semakin turun, berbnding terbalik dengan kerusakan alam yang akan semakin meningkat. Jika sampai pada suatu titik tertentu(dengan perhitungan data yang ada) maka akan terjadi apa yang dinamakan degradasi lingkungan. Dampaknya? Ya macam-macam biar ahli lingkungan saja yang menjelaskan. Jika kita hitung biaya penutupan pencemaran dan mengembalikan ke kondisi awal atau paling tidak 75%, maka keuntungan eksploitasi tidak akan mencukupi. Nah dari situlah kita tahu mengapa freepot, newmon, Lapindo tidak mau mengeluarkan biaya perbaikan. Apa lagi untuk kasus ini…..
Adapun salah satu alat untuk mengendalikan pencemaran yang baik, menurut penulis adalah pengendalian dengan command and control( CAC). Pengendalian ini murni langsung melalui perintah dan pengawasan dari pemerintah. Pengendalian jenis ini dilakukan dengan menggunakan skema pengaturan administratif dan perundang-undangan yang terkait. Langsung dengan jumlah pencemaran dengan menggunakan teknologi yang bisa mengurangi polusi. Permasalahanya, kita semua tahu bagaimana Pemerintahan Negara kita, bisa tidak mereka konsisten dengan pengendalian pencemaran, padahal sudah kita baca pembukaan di depan betapa “ angkuhnya” pemerintah.
Al-Istishlah(kemslahatan umum)
Didalam ilmu ekonomi hal diatas disebut dengan public good dimana dampaknya disebut eksternalitas baik posyif maupun negatif. Maka dalam Islam lingkungan ini sangat-sangat penting. Visi yang diberikan Islam terhadap lingkungan termasuk usaha memperbaiki ( ishlah) terhadap kehidupan manusia. Kewajiban ini bukan hanya untuk sekarang atau sampai 50 tahun kedepan, tapi untuk selama-lama smapai hari kiamat( end of time). Inilah mengapa nilai warisan tidak bisa diukur dengan uang.
Saya akan ambilkan hipotesis Lovelock(1979) bumi merupakan makhluk hidup yang disebut Gaia. Bumi dapat menjadi sakit akibat tidak bisa memulihkan seperti kondisi seperti semula apabila terjadi pengurasan Sumber Daya Alam. Maka dalam ilmu ekonomi yang berwawasan lingkungan selalu ditekankan bagaimana mereduksi dampak eksternalitas negatif tersebut, atau yang disebut paretto optimum.
Maka berlebih-lebihan atau diluar kondisi paretto optimu akan menyebabkan bencana alam yang dahsyat. Maka jika kita lihat dalam kasus ini, dimana PT mengikat kontrak dengan pemerintah selama 35 tahun, ya tinggal kita hitung saja kerusakan dan bencana yang akan terjadi.
Sebagai penutup saya akan mencuplik perkataan profesor Emil Salim, pembanguan konvensional lazim diartikan sebagai usaha eksploitasi sumber daya alam menghasilkan output produk yang sebesar-besarnya dengan biaya seminimal mungkin. Tolak ukur keberhasilan pembangunan adalah naiknya PDB. Semakin banyak sumber daya alam yang terolah, semakin berhasilah pembangunan.
Ha diatas, sudah tidak berlaku lagi untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan demi terciptanya masyarakat adil dan makmur. Ilmu ekonomi sudah mengubah paradigmanya menjadi ilmu ekonomi yang berwawasan lingkungan. Hal ini terbukti dengan konfrensi Konpenhagen yang baru saja dilaksanakan, meskipun hasilnya tidak sesuai. Maka Ngedobos mohon kepada pembaca sumbangan pikiran dan dukungan untuk masalah ini, agar tercipta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

31/12/09

KADO AKHIR TAHUN UNTUK NEGERIKU TERCINTA

Tak terasa sudah tiba dipengunjung tahun( bagi Ngedobos pribadi merupakan awal tahun), sudah banyak cerita dan kejadian yang telah Ngedobos lalui bersama-sama dengan negeriku tercinta. Waktu terus dan terus berlalu tanpa ada yang bisa menghentikan. Cerita suka, duka, sedih dan senang silih berganti menyapa Ngedobos pribadi dan Negeri ini. Ijinkan-lah wahai negeri tercinta rakyat-mu ini memberikan kado kecil sebagai langkah untuk menghantarmu menapak gerbang baru yang penuh tantangan.
Sebenarnya kado ini berupa curhat kepada ibu pertiwi terhadap peristiwa-peristiwa yang dialami negeri ini. Mulai dari kesuksesan Negara menyelnggarakan pemilu yang demokratis, “ selamat dari krisis global” dengan mencatat pertumbuhan ekonomi yang positif, sampai Wafatnya-nya guru bangsa yakni KH. Abdurrahman Wahid. Negeri tercinta-ku begitu banyak cobaan yang engkau hadapi, tapi engkau tetap kokoh berdiri menjulang karena engkau adalah Negeri yang BESAR sehingga cobaan-cobaan tersebut hanya berupa krikil-krikil kecil untuk mengasah kemampuan dan pengalamanmu.
Bangsa besar memang harus tahan menghadapi berbagai macam cobaan. Mulai dari penggusuran stren kali sampai tontonan “ sirkus-sirkus” politik. Mulai bencana situ gintung sampai bencana Sumatera barat. Indonesia engkau adalah Negara besar jangan lupa itu, Negara yang dibangun atas dasar Rahmat Gusti Allah SWT. Negara yang dibangun atas dasar Bhineka Thunggal Ika. Yang menurut pengertian Ngedobos adalah pemahan tentang “ Kebersamaan bukan berarti penyeragaman untuk mencapai Kesejahteraan sosial, adil dan makmur”.
Bangsaku engkau telah melahirkan berbagai macam tokoh bangsa yang telah diakui dunia. Sebuah bangsa dengan keanekaragaman hayati terbesar didunia, sebuah bangsa yang ikut menentukan keseimbangan ekosistem dunia. Bangsa yang ikut menentukan putaran perekonomian dunia dan masih banyak atribut-atribut lain yang menunjukkan bahwa engkau adalah bangsa yang besar. Bangsa-ku 2010 ada di depan mata, maka putra-mu ini mememohon lepaskan segala atribut kebesarnmu yang telah putramu sebutkan diatas. Bukan untuk menghina atau menjelekkan engkau ibu, tapi sebagai wujud cinta putramu untuk engkau Ibu pertiwi. Karena bangsa yang besar tidak perlu pakian kebesaran. Bangsa yang besar tetap menjadi bangsa yang besar tanpa perlu Hutang, mengemis, meminta bantuan dan semua atribut yang bisa mengkerdilkan dirimu.
Inilah kado kecil dari saya wahai bangsa dan Negara-ku tercinta. Tetap-lah tumbuh dan berkembang hingga menjadi sebuah Bangsa besar yang sejati. Ya Rabb, anugarahkan Rahmat-mu untuk bangsa tercintaku. Dan Semoga Ibu pertiwi bersemangat menyambut tahun yang penuh tantangan baru. Bangsa-ku selamat BERJUANG. Sekali Merdeka tetap Merdeka.