07/03/11

MASIHKAH KITA BERBICARA NASIONALISME?

Bung Hatta pernah berpendapat dalam harian Daulat Ra`jat (1931) bahwa: Cara mengatur pemerintahan negeri, cara menyusun perekonomian negeri, semuanya harus diputuskan oleh rakyat, bukan hanya dibidang politik, namun juga dibidang ekonomi dan sosial. Pendapat tersebut dikemukakan beliau 14 tahun sebelum Indonesia merdeka. Diputuskan oleh rakyat berarti menganggap bahwa satu bangsa, satu bahasa dan satu tanah air adalah saudara. Saudara yang harus diangkat bersama-sama, saudara yang harus digandeng dan dirangkul untuk kemajuan bangsa. Bukan malah diinjak dan dijadikan korban untuk kepentingan dirinya sendiri.
Namun kini ditengah arus perdagangan bebas dimana kegiatan bisnis menjadi TUHAN dalam menjalin sebuah hubungan. Dato’ Anthony Francis Hernandes, pendiri dan chief officer AirAsia tidak perlu pusing-pusing memikirkan nasionalisme, yang terpenting adalah bagaimana kita sukses berbisnis dengan meraup keuntungan yang besar. Bahkan seorang teman penulis pernah berkata, “ Bagi kita orang ekonomi, nasionalisme adalah sebuah alat untuk mencapai tujuan bisnis kita”. Jaman perdagangan bebas yang membuat semakin mengecilnya batas antar Negara (borderless), membuat hubungan antar manusia sedikit demi sedikit didasarkan atas perhitungan keuntungan dan manfaat. Inilah sebuah kenyataan tentang perekonomian di era perdagangan bebas. Dan persaingan adalah kata kunci untuk masuk dalam dunia itu. Seperti pasar persaingan sempurna dimana barier to entry dan Barier to out sangat kecil. Sehingga, jika ada individu atau pelaku ekonomi yang tidak mampu bertahan maka pintu keluar sudah menunggu untuk dilangkahi.
Realitas dan Idealis
Tarikan kekuatan ekonomi dan politik dunia membuat konsep idealisasi Bung Hatta terlihat semakin melemah. Jika Bung Hatta mencita-citakan ekonomi koperasi yang berazaskan kekeluargan sebagai pijakan dasar untuk membangun perekonomian Indonesia. Maka hari ini ekonomi yang bersifat individualistik yang menjadi panglima pemikiran kebanyakan masyrakat Indonesia. Hal ini wajar dikarenakan sifat dasar individu adalah selalu berusaha menggunakan kekuatan yang mereka miliki untuk dapat mencapai tujuannya. Meskipun dalam proses pencapaian tujuannya harus mengorbankan saudara, teman seperjuangan maupun bangsanya ia tidak peduli.
Proses perdagangan bebas menyebabkan berkurangnya biaya transaksi yang terjadi dalam kegiatan bisnis. Pemikiran teman penulis dan Dato’ Anthony Francis Hernandes mengindikasikan bahwa nasionalisme itu hanyalah sebuah alat dan bukan-lah sebuah tujuan. Celakanya hal ini didukung oleh sistem kelembagaan yang lebih berfungsi sebagai organisasi bisnis dari pada organisasi yang mengurusi berjalannya suatu Negara. Kebijakan ekonomi yang dibangun oleh diseain kelembagaan lebih menguntungkan pemodal besar dan pasar financial dari pada pemodal menengah-bahwa dan sector rill. Inilah yang disebut dengan paradox ekonomi.
Nasionalisme Kemana Engkau Melangkah?
Sejak jatuhnya presiden Soeharto maka dimulalilah perubahan sistem ekonomi di Indonesia. Namun sayang, landasan yang digunakan untuk membagun bukan-lah keterikatan ideology, tetapi keterikatan pragmatisme. Salah satu contoh adalah, bagaimana pemilihan pilpres mulai 1999 sampai 2009 kemarin yang lebih menonjolkan sisi figure dan bukan ideology. Maka tidak mengherankan apa bila partai dibentuk berdasark format demokrasi tetapi sistem yang dipakai masih feodalis.
Hal inilah yang membuat kebijakan sebuah keputusan politik lebih bersifat market-centered approach dari pada keputusan citizenry-centered approach. Perbedaannya adalah: jika keputusan politik bersifat market-centered approach maka semua orientasi kebijakannya bersifat bagaimana meningkatkan kesejahteraan satu gerbong maupun satu kelompok secara kolektif. Jika keputusannya bersifat citizenry-centered approach maka segalah keputusan politik yang dibuat berpijak pada kepentingan bangsa dan Negara. Entah itu akan merugikan kelompoknya atau menguntungkan, pemegang kekuasaan tidak peduli, asalkan bangsa dan Negara mengalami progress yang cukup menggembirakan.
Penutup
Indonesia dibentuk dari beragam partikel keanekaragaman yang berasal dari satu sumber. Untuk itu era perdagangan bebas seharusnya secara ideal tidak digunakan untuk saling memakan bangsanya sendiri. Tapi, bagaimana kita sebangsa dan setanah air bekerjasama untuk membangun perekonomian Indonesia satu. Hubungan yang didasari oleh kepentingan bisnis tidak akan pernah bertahan lama. Baik itu dibidang ekonomi, politik maupun sosial. Tidakkan kita generasi penerus bangsa ini pernah memikirkan sejarah bangsa ini? Tidakkan pernah memikirkan orang lain dan alam sekitar di alam pikiranmu? Indonesia dan nasionalisme tidak akan pernah dapat dipisahkan. Disadari atau tidak dan diakui atau tidak. Nasionalisme masih tetap relavan dalam konteks membangun ke-Indonesian.

05/02/11

HMI TIDAK PENSIUN (Kado Kecil Untuk HMI)

Peristiwa globalisasi yang terjadi saat ini tidak hanya mempengaruhi sisi ekonomi dari negara Indonesia. Namun lebih dari itu, peristiwa tersebut mempengaruhi sikap, nilai dan kepercayaan yang kadang-kadang secara kolektif disebut sebagai “budaya”. Berawal dari budaya inilah, sebuah peradaban baru muncul dan memainkan peranannya.
Perubahan budaya merupakan senjata paling ampuh untuk menentuhkan apakah Indonesia bisa naik ke tingkat lebih tinggi atau turun dan menghilang. Hal tersebut juga berlaku pada organisasi kader HMI. Sejak dicetuskan oleh kanda Lafran Pane pada tanggal 14 Rabiul Awal 1366 H, HMI telah melewati medan perjuangan yang tidak bisa dikatakan pendek. Mulai dari dinamika poleksosbud perjuangan mengusir penjajah hingga poleksosbud era Globalisasi. HMI masih tetap berdiri.
Ilmu Perubahan
Sejarah panjang memang memberikan rasa kebanggaan di dada. Namun sejarah panjang pulah-lah yang membuat kader HMI terjebak “ romantisme masa lalu”. Sebagai organisasi kader yang tujuan akhirnya adalah “ Terbinanya insan Akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan Bertanggung jawab atas terwujudnya Masyarakat Adil dan Makmur yang Diridhoi Allah SWT” belum mampu dijawab oleh kader-kader HMI masa kini. Kader-kader HMI saat ini hanya terjebak romantime masa lalu dan berjalan dengan kereta yang sudah ketinggalan jaman. Untuk itu perlu ada pembaruan dalam cara pandang, berpikir dan bersikap di tubuh kader-kader HMI.
Bangga dengan kejayaan masa lalu itu boleh, bahkan dianjurkan sebagai bahan pembelajar. Namun jika hanya bangga tanpa ada pemikiran kritis sama juga melupakan tujuan HMI itu sendiri. Berpikir kritis dan berpikir “Ngeyel” itu mempunyai perbedaan yang amat tipis. Jika berpikir kritis melewati tahapan pencarian informasi, dipadu dengan ilmu, budaya dan teknologi internal serta kehendak Allah baru mengeluarkan output yang disebut “Pemikiran”. Sedangkan berpikir Ngeyel adalah mencari informasi, dipadu dengan pengetahuan, rasa benar sendiri dan kepentingan pribadi sehingga output yang keluar hanyalah “ Tong Kosong”.
Ini bukan pembicaraan ber’wajah-doktrin’ yang membedahkan antara benar dan salah. Tetapi sekedar suatu ‘dzikir’ kecil bahwa pentingnya sebuah keyakinan nilai dalam merajut mata rantai proses sejarah HMI dan Indonesia. Ilmu perubahan mengajarkan kepada kita kemungkinan apa yang harus kita rubah di dalam diri kita sendiri sebagai kader HMI lebih besar dibanding diri kita sendiri, HMI dan Indonesia.
Tidak HMI Tidak Pensiun
Membangun peradapan tidak dalam waktu satu minggu, satu bulan bahkan sepuluh tahun atau mungkin sepanjang usia HMI dan Indonesia. Peradapan baru adalah terbentuknya cara pandang baru bisa berubah-ubah setiap saat. Kewajiban kader HMI hanyalah memikirkan keharusan-keharusan dan potensi perbahan dalam skala yang kita mampui. Dan hal tersebut cukup berat untu dilaksanankan.
Kemandekan intelektual HMI dan pemikiran apatis generasi sekarang tentang nilai dari perubahan itu sendiri bukan lantas membuat kader HMI patah semangat. HMI adalah sebuah nilai yang terus memancar hingga akhir jaman. Nilai tersebut terus-menerus berseliweran ditunggu untuk ditangkap oleh kader-kader HMI yang memiliki instuisi dan kepekaan.
Namun barang kali kita adalah kader-kader tolol sehingga memandang HMI adalah sebuah kendaraan, sebuah bangunan untuk melampiaskan hasrat dan nafsu kita. Untuk melampiaskan pemikiran-pemikiran “Ngeyel” kita. Padahal tidak, HMI tidak pensiun. Nilai HMI ada didekat-mu, selalu menjaga setiap langkah kadernya. Entah engkau merasa atau tidak.

Gigih Pringgondani, komisariat ekonomi Airlangga

27/12/10

JANGAN PERNAH LETIH MENCINTAI INDONESIA

Pendahuluan
Gegap gempita kemenangan 5-1 atas Malaysia telah membangkitkan jiwa nasionalisme di hampir seluruh masyarakat Indonesia. Dari sisi politis jelas kemenangan ini berdampak pada “merasa” Indonesia telah berhasil membalas kekalahan di bidang diplomasi, kebudayaan dan hukum internasional. Ya perseteruan itu sejak lama telah tertanam di hati kedua belah saudara serumpun. Indonesia, sejak kemenangan itu engkau seakan-akan telah berhasil berubah dari burung emprit menjadi seekor Garuda. Ya, Garuda yang tertanam didadaku.
Ngomong-omong tentang garuda, Indonesia tidak akan bisa lepas dari sejarahnya. Lambang garuda mempunyai makna penting bagi rekam jejak negara kita. Dengan tambahan pancasila, lambing garuda dan merah putih telah menjadi alat pemersatu bagi Negara dengan tingkat ke-anekaragaman tertinggi se-Dunia. Teringat jelas bagaimana dulu di sekolah dasar (SD), masih goblok-gobloknya penulis menghafalkan Garuda pancasila. Dari sila satu-sampai sila lima plus nyanyiannya.
Mitologi Kuno
Kini 10 tahun sudah penulis meninggalkan jaman kebodohan tersebut. Jaman dimana penulis di “ceritani” tentang hari kesaktian pancasila (G30S/PKI), dipaksa-paksa menghapalkan PANCASILA dan penderitaan-penderitaan lainnya. Kini setelah dewasa penulis berpikir Ah, garuda, ah pancasila apa-an tu. Itu semua hanyalah khayalan dan SYIRIK kepada Tuhan YME. DI jaman globalisasi, yang katanya tidak diperlukan ideology, yang katanya kita bisa hidup makmur saling bergandengan dan berpelukan. Atau di jaman terbukanya kepintaran dan kesucian orang-orang suci yang berpandangan ah pancasila hukumnya SYIRIK.
Aku nikmati saja semua bunga-bunga indah itu. Berkelana dari satu tempat ke tempat lain. Menabrak-nabrakkan pemikiran Tuhan YME yang sempat mampir dalam otakku. Merenung di pojok warung kopi, sambil bertanya Hai Garuda apa kabarmu sekarang??? Apakah engkau masih sakti Garuda? Atau apakah engkau sudah menjadi emprit yang tak bisa bangun lagi? Kalah oleh pemikiran-pemikiran “maju dan modern????? Kuingat kembali pembukaan UUD 1945 yang berbunyi:
“ Berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, didorongkan oleh keinginan luhur supaya berperikehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya……”
Inilah cita-cita awal Bangsa kita, para pendiri Negara Republik Indonesia. Mengapa mereka menciptakan Garuda Pancasila. Garuda adalah burung mitologi asli buatan bangsa Indonesia. Bangsa yang konon katanya punya sejahra amat tua di muka bumi ini. Untuk menjamin sebuah negara yang bebas, maka pertama harus memiliki pegangan yang kuat. Pegangan yang dapat diterima oleh elemen-elemen bangsa Indonesia. Maka dari itu keterbatasan kita, maka ditransferkannya pemikiran-Nya kedalam ubun-ubun para pendiri bangsa, lahirlah pembukaan UUD 1945 dengan pancasila didalamnya. Pancasila menandakan cita-cita dibentuknya NKRI. I’idee pousse a I acte, ide dan cita-cita besar yang harus diwujudkan dalam kenyataan.
Menegakkan Benang Rapuh
Kini setelah melewati ruang dan waktu 65 tahun lamanya. Pancasila mulai digugat, mulai ditinggalkan dan mulai tidak dihiraukan. Sebagian Orang-orang pintar, cerdas, suci dan berbagai sebutan kemodern-an, menganggap pancasila hanya diperlukan saat kita belum merdeka. Diperlukan sebagai alat politik untuk menyamakan kepentingan kemerdekaan Indonesia. Pancasila perlahan engkau dilupakan. Coba tengok pemuda-pemuda lugu masihkan mengingat nama engkau di hati mereka????
Garuda sang pembawamu tak pernah satu detik-pun menutup mulutnya untuk terus mengagungkan nama-mu. 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu dan 365 hari dalam setahun dikali 65 tahun si Garuda tetap terbuka mulutnya untuk tetap berkata “Hai Bangsa Indonesia, Jangan Lupa di Dadaku Ada Senjata Luhur Hasil Karya Kebudayaanmu Sendiri” itu bukan karya Karl Max, bukan karya Adam Smith, Plato, Aristotels, Imam Khomeni, Khalifah manapun. Itu murni semurni-murninya hasil kebudayaan yang telah melewati ribuan tahun. Namun yang tiada yang mendengar, tiada yang menghiraukan.
Namun tiba-tiba saja keajaiban itu terjadi, mendadak semangat nasionalisme itu muncul kembali. Piala AFF telah membantu sedikit membuka gerbang tersebut. Namun hanya burung Garuda yang mendapat tempat “di Dadaku” sedang Pancasila, tak tahu entah kemana. Dengan kepercayaan tinggi dan membusungkan dada, Nasionalisme maju perlahan tapi pasti membantai semua lawan di piala AFF. Semakin lama garuda didadaku semakin besar. Namun hari ini, tepat tanggal 26 Desember 2010 dada itu menciut. Garuda seakan-akan berubah menjadi Emprit, burung kecil tidak berdaya.
Jangan Pernah Letih Mencintai Indonesia
Tak mudah mencintai sesuatu yang sudah kuno. Tak mudah menata mental untuk bangkit kembali. Dengan kondisi ketimpangan sosial yang makin lebar, buruknya sisem hukum, pendidikan, persebakbolaan dan sistem negara kesatuan kita. Masih tetap ada cahaya tersebut. Selama Burung Garuda tegak berdiri, selama pancasila masih berada didada Garuda. Selama itu Bangsa ini akan melangkah maju ke depan. Kata Sutan Sjahrir “ Aku cinta pada negeri ini, terutama barang kali karena aku mengenal mereka sebagai pihak yang menderita, pihak yang kalah. Untuk itu, Masyarakat Indonesia dukung terus Timnasmu, dukung terus pembinaan atlet lokal berpotensial, dukung terus perbaikan sistem pendidika dan cara mengajar. Dukung terus penegakan keadilan. Jangan pernah merasah letih untuk mencintai Indonesia. Mencintai Pancasila dan Mencintai sebuah perjuangan. Indonesia Yakin Usaha Sampai

07/11/10

ACTION FOR INDONESIA

Tanah airku tidak ku lupakan, kan terkenang didalam hidupku. Tanahku yang ku cintai engkau ku hargai. Walaupun badai terus menerpamu, engkau tetap kebanggaanku. Indonesia dibalik kekayaan alammu, engkau menghadirkan sebuah tantangan yang begitu besar. Mulai dari: Keserakahan sebagian bangsamu, keserakahan dari bangsa asing, potensi bencana alam dan beberapa tantangan lainnya. Sekitar 75% kabupaten di Indonesia rawan bencana. Perinciannya, 110 kabupaten/kota rawan bencana gunung berapi, 149 kabupaten rawan kekeringan , 154 kabupaten/kota rawan longsor dan 83 kabupaten/kota rawan tsunami.
Ilmu Bencana
Dunia tidak bisa ditundukkan tanpa menggunakan ilmu. Ilmu selalu membukakan cahaya didalam kegelapan. Begitu juga bencana yang terjadi saat ini. Bencana gunung merapi, bencana tsunami dan bencana banjir Wasior tidak terlepas dari kelalaian manusia Indonesia betapa pentingnya sebuah ilmu. Ilmu itu bermacam-macam. Ada ilmu Ilmiah yang pembuktiannya melalui uji teori yang sudah ada. Ada ilmu titen yaitu ilmu dengan melihat gejala alam dalam jangka waktu yang lama. Ada ilmu gaib yaitu ilmu diluar logika manusia. Ada ilmu agama yaitu ilmu yang menyangkut kepercayaan. Dan masing-masing pokok ilmu tersebut mempunyai cabang ilmu yang tidak terhitung banyaknya.
Ilmu membutuhkan sebuah pengorbanan yang besar untuk mendapatkannya. Membeli sebuah ilmu dibutuhkan waktu dan biaya yang tidak murah. Namun, kebiasaan sebagian besar masyarakat kita adalah mengeluarkan waktu dan biaya sedikit mungkin untuk mendapatkan ilmu tersebut. Hal inilah yang menjadi penyebab kebuntuhan ilmu di negeri ini. Dari kecil kita didik untuk menghindari resiko, menghindari apa yang dinamakan “pemborosan waktu”. Kita terbiasa menjawab soal dengan pakem A=A, jika ada jawaban A=B tanpa pikir panjang jawaban itu langsung dianggap salah, jawaban sesat, bahkan jawaban mursal. Itulah sebabnya tradisi berpikir, tradisi mencari, tradisi ijtihad dan tradisi kreatif dalam kehidupan berilmu di Indonesia cenderung lemah.
Bencana alam Gunung Merapi dan Tsunami memang tidak dapat dihentikan. Namun bencana banjir di Wasior dapat dicegah jika ilmu konservasi alam di terapkan secara benar (misalnya). Bencana Merapi dan Tsunami dapat dikurangi dampak kerusakan jika kita mengacu pada ilmu sejarah (misalnya). Suatu contoh: saat bencana terjadi pasti pertama-tama kendala kita adalah masalah transportasi dan komunikasi. Dua hal tersebut selalu menjadi kendala utama dan terus terjadi berulang-ulang. Alangkah lebih cepat dan tanggap jika kita ingat akan sejarah tersebut dan memikirkannya bagaimana membuat saluran transportasi dan komunikasi darurat secara efisien dan efektif didaerah lain yang rawan bencana. Alangkah lebih bagus lagi jika para ahli, ilmuwan dan cendekiawan kita meninggalkan apa yang disebut NATO (No Action Talk Only).
Dari Pray Menjadi Action
Pray for Indonesia sebuah selogan yang kini marak digunakan oleh media telivisi, internet dan masyarakat Indonesia. Sebetulnya istilah Pray sendiri bermakna: kita memohon/berharap dan berdoa agar Indonesia ini terhindar dari bahaya dan bencana dan itu sangat mulia sekali. Namun, pray saja tidak cukup harus diikuti kata action. Pray adalah kata kerja bentuk pasif karena kita memohon, sedang action adalah kata kerja bentuk aktif yang artinya kita melakukan sesuatu. Sekarang kita sejenak berpikir, bayangkan kita berada dalam sebuah kelas yang berisi 40 siswa dan 1 orang guru. Kira-kira guru lebih cepat hafal dan simpati pada siswa yang Aktif atau siswa yang Pasif? Ini adalah logika manusia jangan disamakan dengan logika Tuhan.
Logika Tuhan, tentu hanya Tuhan yang tahu dan menjadi hak preogatif Tuhan itu sendiri. Namun itulah kita, menggunakan kata action berarti kita mengorbankan waktu, tenaga dan juga uang kita untuk membantu saudara kita, untuk membantu memikirkan bagaimana dampak jangka panjangnya. Apakah nanti saudara kita bisa pulih lagi perekonomiannya? Apakah saudara kita nanti tidak mengalami trauma? Sehingga malas menjadi produsen bahan pangan? Apakah nanti saudara kita trauma tinggal ditepi laut? Sehingga tidak ada yang mengelola laut kita? Dan beribu apakah yang harus kita jawab, jika kita menggunakan kata action. Itulah resiko yang harus kita tanggung jika menggunakan kata action. Maka untuk mengambil resiko sekecil mungkin kita menggunakan jalan Pray tadi.
Penutup
Butuh waktu untuk mengubah semua hal. Butuh waktu untuk mengubah tradisi berpikir dan mencari. Butuh waktu merubah tradisi dari pasif menjadi aktif. Indonesia engkau adalah bangsa yang besar, bangsa yang mempunyai sejarah panjang. Budayamu, kekayaan alammu, ketinggian akhlak pendudukmu, kearifan lokal, kecepatan belajar pendudukmu. Semua-semua jangan sampai terkubur dan mati begitu saja. Semua-semua jangan sampai berubah dari aktif menjadi pasif. Berubah menjadi aktif bukan untuk mencari sebuah lebel dalam diri kita. Berubah menjadi aktif adalah untuk kembali kepada diri kita sendiri yang sejati. Dan ternyata itu membutuhkan waktu yang tak terhingga.
Namun saudaraku, saudara kita yang ada di Yogya dan sekitarnya, Mentawai dan sekitarnya, Wasior dan sekitarnya tidak punya banyak waktu untuk menunggu. Aksi kita, uluran tangan kita dan tentu saja pray kita ditunggu oleh saudara-saudara kita. Jangan sampai saudara kita yang menolong adalah tetangga kita. Akhir kata Action For Indonesia. Yakin Usaha Sampai. Amin.

12/10/10

MASIHKAH KITA MENUTUP MATA?

Kalau satu negara penuh dengan kekayaan alam, tetapi lemah semangat persatuan, lemah intelektual dan mempunyai mental babu, maka negara itulah yang akan jadi umpan atau makanan negara yang gagah perkasa( Tan Malaka,Madilog). Ungkapan ini diucapkan Tan Malaka didalam bukunya yang berjudul Madilog(Materialistik, Logika dan Dialektika) sejak 70 tahun yang lalu. Yang penulis rasa masih pas untuk kita obrolkan. Dalam tulisan ini penulis tidak akan membahas tentang bagaimana dan apa itu Madilog? Tapi penulis lebih sekedar bercerita bagaimana hubungan antara kekayaan alam, intelektual, semangat persatuan dan lingkungan.
Kawan akhir-akhir ini sering sekali bencana alam menimpa negeri ini, mulai dari bumi Aceh sampai bumi Papua. Bisa dikatakan dari Sabang sampai Merauke sudah pernah terkena bencana. Kawan menurut berita yang penulis dengar, banjir yang menimpa kota Wasior Papua merupakan akibat badai La Nina. Badai jahat yang membawa udara basah sehingga menimbulkan hujan badai yang besar dan terus menerus. Kawan menurut para Ahli klimatologi dan sejenisnya, badai ini merupakan saudara kandung dari badai El Nino. Kedua badai ini muncul dikarenakan adanya fenomena yang disebabkan oleh perubahan iklim (climate change).
Kawan kegiatan ekonomi pada abad 21 telah mengeksploitasi sumber daya alam untuk menghasilkan output dan menaikkan pendapatan domestik bruto (PDB). Kegiatan eksploitasi yang dilakukan terus menerus menimbulkan sebuah eksternalitas negatif berupa kerusakan lingkungan. Hukum permintaan dan penawaran tidak memasukkan faktor lingkungan didalam penentuan nilai dan harga sebuah barang. Semakin tinggi permintaan akan sebuah barang dan semakin sedikit persediaan barang tersebut menyebabkan harga barang menjadi mahal. Pada umumnya barang hasil sumber daya alam mempunyai nilai tinggi dan harga yang mahal didalam pasar. Minyak bumi, batu bara, tembaga, emas adalah contoh barang tambang yang mempunyai nilai tinggi dan harga yang mahal di pasar dunia.
Kawan masih ingatkah engkau tentang hukum Termodinamika? Hukum ini berbunyi bahwa proses perubahan suatu zat menjadi zat lain akan menghasilkan zat sisa yang dinamakan limbah, zat sisa ini bisa berwujud padat, cair dan gas. Limbah yang dihasilkan dari kegiatan ekonomi dikembalikan kepada lingkungan melalui sungai, tanah dan udara. Limbah yang ada semakin lama-semakin bertumpuk, dan lingkungan tidak dapat menetralkan secara alami. Sehingga alam yang menjadi pijakan hidup manusia mengalami penurunan kualitas.
Inilah kawan, inilah pokok permasalahan kita, limbah buang. Kawan dijaman serba modern, kecepatan pertumbuhan ekonomi lebih diperhatikan dari pada pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Perbedaan paling mendesar dari kedua konsep ini adalah memasukkan dan tidak memasukkan variabel lingkungan didalam perhitungan perencanaannya. Lebih mudahnya, pertumbuhan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan tmerupakan 2 konsep yang tidak bisa dilakukan disatu tempat dalam waktu yang bersamaan.
Kawan perekonomian kita sebagian besar ditopang oleh kekayaan alam alias bahan mentah. Bahan mentah tersebut seperti Minyak bumi, tembaga, batu bara, timah, kayu, air dll. Semua itu adalah penopang perekonomian kita kawan. Apa lagi sistem perkonomian kita menganut menganut sistem perekonomian terbuka menyebabkan, perekonomian Indonesia terhubung secara langsung dengan sistem perekonomian dunia. Implikasinya kita terhubung dengan pergerakan modal internasional.
Teori investasi mengatakan bahwa semakin kecil hambatan perdagangan akan mempertinggi fluktuasi perpindahan aliran modal. Celakanya 70% modal perekonomian kita tetap dikuasai oleh negara asing. Memang teori komperatif perdagangan internasional hal tersebut bukan masalah, selama terjadi pertumbuhan ekonomi is okey no problem. Namun akan menjadi masalah jika kita hubungkan dengan masalah lingkungan atau stabilitas perekonomian nasional (misalnya). Kenapa hal itu terjadi? Akan penulis ceritakan pada paragaf berikutnya.
Semua pergerakan modal dewasa ini masuk pada pasar keuangan atau pasar modal. Memang ada yang foreign investment (investasi langsung/PMA). Saat investor ingin memasukkan dana pada pasar keuangan atau pasar modal, tentu investor melihat saham mana yang mempunyai prospek cerah. Prospek cerah ini ditinjau dari tiga hal. 1. Laporan keuangan, 2. Output yang dihasilkan dan 3. Stabilitas harga saham tersebut. Semua tiga komponen diatas bermuara pada proses produksi. Saat proses produksi baik, maka seluruh tiga komponen diatas itu baik. Berarti saham perusahaan tersebut mempunyai prospek layak beli.
Okey, singkat kata investor tadi membeli saham perusahaam tersebut. Menurut teori modal perusahaan tersebut bertambah dan digunakan untuk melakukan kegiatan produksi. Nah, dari kegiatan produksi inilah terjadi sebuah trade off (bertolak belakang) antara kegiatan ekonomi dan kualitas sumber daya alam. Terlebih lagi jika perusahaan itu bergerak pada sektor pertambangan dan manufaktur. Kita kembalikan pada hukum termodinamika bahwa kegiatan produksi tersebut akan menghasilkan sebuah zat sisa yang dinamakan polusi. Polusi yang dihasilkan oleh industrialisasi menjadi ancaman bagi keberhasilan sustainable development.
Itu baru polusi, belum lagi kerusakan alam langsung seperti munculnya lumpur, hilangnya hutan, keringnya tanah dll. Semua itu yang menanggung adalah negara Indonesia. Dari sisi kestabilan pasar keuangan lebih mengerikan lagi dampak yang ditanggung Indonesia. Masih ingat krisis 1997/1998? Bagaimana sebuah modal asing ditarik keluar dan berakibat runtuhnya bangunan perekonomian kita? Itulah mengapa tulisan Tan Malaka menarik untuk diceritakan kembali.
Tan Malaka tidak bercerita tentang modal dalam arti uang, tapi modal dalam arti kualitas manusia. Kualitas tersebut tidak hanya pintar secara intelektual tapi juga pintar dalam hubungan Meng-Allahkan Allah, Memanusiakan-manusia dan MengAlamkan-alam. Modal dalam arti uang merupakan variabel ikutan. Jika kita pintar dan peduli terhadap negara ini tentu kejadian di Wasior, Lapindo, dan tempat lain tidak akan terjadi. Masihkah kita menutup mata kawan, tentang semua ini? Tentang memacu perekonomian dan memperkaya diri tanpa mengindahkan pembangunan lingkungan? Kawan kuberitahu engkau satu rahasia, saat harga saham sebuah perusahaan industry sedang tinggi (mahal) berarti emisi yang dihasilkan juga tinggi. Terserah engkau boleh percaya, boleh tidak? Wong ini namanya rahasia kok.
Kawan ilmu modern boleh membuatmu penasaran dan terkagum-kagum. Tetapi dunia sudah membuktikan ilmu modern masih kurang sempurna untuk memecahkan masalah dunia. Dibutuhkan pendamping ilmu yang berasal dari ilmu kuno, ilmu tradisonal. Kawan Yakin Usaha Sampai (YaKuSa) untuk mencapainya. Terimah kasih kawan sudah menyempatkan waktu sejanak untuk menengok cerita pengantar tidur ini. Lain waktu kita berjumpa lagi.

16/09/10

RENUNGAN DI POJOK WARUNG

Sore itu, kawan aku duduk termenung sendiri di pojok sebuah warung. Merenung memandang kebelakang sejanak pengalam-pengalaman yang telah aku lalui. Kata orang, pengalaman merupakan sebuah guru yang amat berharga. Lebih berhaga dari sebuah buku yang kita baca maupun ceramah dari seorang Dosen. Sambil menyeruput teh susu hangat, kuingat lagi kata-kata seseorang yang aku kagumi, Indonesia adalah bangsa yang besar, bangsa yang terdiri dari berbagai macam suku dan budaya. Sampai seorang Prof dari Universitas Columbia USA sampai terheran-heran bagaiman Negara Indonesia yang tersusun dari begitu banyak keragaman bisa berdiri menjadi sebuah Negara yang utuh.
Sambil memandang layar telivisi kawan yang menyiarkan berita pesona nusantara, pikiranku mundur kebelakang mengingat kejadian di kelas politik. Saat itu kawan, dosenku bercerita tentang sebuah Wawasan Nusantara. Sebuah cara pandang yang sudah jarang dimiliki orang Indonesia. Wawasan Nusantara berarti kita sadar akan alam Indonesia, keragaman budaya, ketahanan wilayah dan kesedaran untuk memajukan serta mempertahankan Negara Indonesia. Ah, kawan ini adalah sebuah pikiran kuno, pikiran yang sudah ketinggalan jaman. Wawasan Nusantara? Untuk apa hal itu? Bukankah kita sudah hidup di era Globalisasi? Era dimana sekat Negara sudah tidak ada, era dimana manusia bisa bebas kesana kemari tanpa terikat oleh institusi yang bernama Negara. Doktrin Wawasan Nusantara sudah usang, begitu kata temanku yang duduk bersebelahan denganku didalam kelas. Temanku ini tergolong anak yang cerdas dengan IPK 3,75, tentu saja pikirannya lebih maju dari pada aku seorang pemuda warung dengan IPK Nasakom (nasib satu koma). Temanku ini bercita-cita setelah lulus dari UAS (Universitas Alam Semesta) ingin melanjutkan sekolah di Harvard University. Universitas nomer 1 didunia. Dul, aku ingin pergi ke Harvard untuk belajar politik agar bisa memodernkan sistem politik Indonesia.
Aku hanya bisa manggut-manggut saja kawan, kutatap bangga punya teman yang seperti dia.Kutepuk pundak kawanku ini, “ Wah, kawan engkau memang seorang Nasionalis sejati, seorang yang mempunyai perhatian tinggi terhadap bangsa dan negara ini”. Nasionalisme? Perhatian? Untuk Bangsa? Tidak dul, konsep nasionalisme sudah usang sama halnya dengan konsep wawasan Nusantara. Tidak lucu bukan, jika negara-negara lain menerapkan Globalisasi, kita masih berkutat pada Nasionalisme? Kapan kita maju dul. Persaingan akan membuat kita maju, persaingan akan membuat kita kuat dan persaingan akan membuat kita menuju dunia modern, dunia lebih baik. Dul, sistem politik yang aku inginkan adalah terbukanya semua sektor ekonomi. Agar bangsa kita yang bodoh ini terbuka mata dan wawasannya. Lalu langkah awal untuk itu? Tentu saja dul, mengamandemen kembali UUD 1945 dan Pancasila karena itulah sumber keterpurukan negara kita.
Aku terdiam sejenak berpikir keras, amandemen UUD 1945 dan merubah Pancasila? Bukankah itu berarti kita mendirikan sebuah negara baru? UUD 1945 dan Pancasila adalah dasar pijakan negara ini? Kalau mengubah kedua hal tersebut berarti telah mengubah negara ini, bukan negara Indonesia yang merdeka 1945, tapi sebuah negara baru meskipun sama namanya. Dul, kenapa diam? Kamu bingung dengan perkataanku? Begini dul, mengapa UUD 1945 dan Pancasila merupakan sebuah sumber masalah. Coba kita lihat Sila 1, adalah sumber masalah konflik antar agama yang terjadi di Indonesia. Disadari atau tidak penghilangan tujuh kata dibelakang Ke Tuhanan Yang Maha Esa telah melegalkan ormas tertentu untuk merusak tatanan masyarakat. UUD 1945, terutama pasal 33 telah membuat gerak ekonomi melambat, coba kalau pasal itu dihapuskan tentu pertumbuhan ekonomi dapat melesat tinggi. Setelah ekonomi tumbuh, kita akan menjadi negara maju dan rakyat makmur sejahtera. Dan aku akan dikenal dunia sebagai seorang arsitek politik yang hebat, karena berhasil mengubah bangsa yang terbelakang menjadi bangsa yang unggul. Sambil manggut-manggut aku berpikir, betapa indahnya mimpi yang kau jual kawan.
Mimpi ya sebuah mimpi, itulah yang kupikirkan sekarang kawan. Mimpi untuk menjadi bangsa modern, bangsa yang maju. Walaupun modernitas itu tidak mengindahkan sopan santun, tidak mengindahkan silahturami dan tidak mengindahkan gotong royong. Modernitas tersebut telah membuat seseorang memaksakan kehendaknya,memaksakan idenya dan memaksakan caranya. Itu semua dilegalkan oleh institusi yang bernama negara. Modernitas mengukur kemajuan hanya dari segi ekonomi. Gotong royong, silahturami adalah kegiatan yang tidak produktif dan menghabiskan waktu. Silahturami cukup kirim sms dan telepon beres masalah, tidak membuang banyak uang dan waktu. Gotong royong? Buat apa? Cukup kita bayar orang untuk membersikannya. Ah, kawan uang, efisiensi dan efektif sumua itu yang diukur oleh dunia modernitas kita. Ada sebuah kisah yang mungkin bisa mengingatkanmu kawan tentang sebuah sikap silahturami. Sebuah cerita tentang paesani sebuah suku yang mendiami kota Roseto Valtore.
Suku paesani kebanyakan bekerja sebagai petani atau penambang. Pada bulan Januari 1882, beberapa suku paesani berlayar menuju New York untuk meningkatkan pendapatannya. Sesampainya disana mereka menemukan tambang batu di daerah Bagor, Pennsylvania. Setelah penemuan itu, makin banyak suku paesani yang bermigrasi ke Bagor. Semakin lama, komunitas paesani semakin besar hingga berdirilah sebuah kota. Kota baru ini dinamakn New Italy yang kemudian diubah menjadi Roseto untuk mengingat kampung halaman mereka.
Tersebutlah seorang dokter bernama Stewart Wolf, beliau adalah seorang dokter dan menjadi peneliti di Universitas of Oklahoma. Suatu ketika dia diundang pesta oleh seorang rekannya seorang dokter didaerah Roseto. Rekan tersebut bercerita bahwa penduduk disini, jarang mengidap penyakit jantung, kalaupun ada hanya orang berusia 65 tahun keatas yang kena. Wolf kemudian memutuskan untuk meneliti fenomena tersebut. Awalnya Dr Wolf mengira bahwa yang menyebabkan ini semua adalah faktor makanan atau pola olah raga atau gen atau lokasi kota itu sendiri. Namun, diakhir penilitiannya semua hipotesis awal tersebut tertolak. Yang menyebabkan penduduk Roseto berumur panjang adalah kebiasaan mereka bersilahturami. Kebiasaan ini mendorong orang kaya untuk tidak memamerkan kekayaannya dan menolong orang-orang yang kurang sukses menguburkan kegagalannya.
Begitulah kawan, ini contoh nyata sebuah budaya silahturami membuat kita berumur panjang. Kawan, wawasan nusantara mencakup didalamnya ada budaya Silahturami. Budaya inti bangsa kita. Kawan didalam konsep Wawasan Nusantara terkandung makna “ Hei orang Indonesia berinteraksilah, bertukar pikirlah dan bersilahturamilah dengan saudara-saudara kalian dibelahan daerah lain, kita adalah satu saudara kawan, satu bangsa dan satu Negara”. Namun kini, semua itu tertutup oleh modernitas. Semua hal yang dianggap modern pasti baik. Tengok saja kawan, berapa ribu pemuda kita ber IP 3,00 keatas yang antri untuk bekerja di sektor modern, berapa ribu calon mahasiswa yang mendaftar pada jurusan kedokteran, ekonomi, teknik industry? Berapa ribu mahasiswa yang bercita-cita ingin sekolah ke Oxford, Cambridge atau Harvard? Namun kawan coba tengok, berapa ribu mahasiswa yang berminat mengambil jurusan kelautan dan pertanian? Berapa ribu tenaga kerja yang antri untuk bekrja disektor pertanian.
Kawan, tentu saja aku tahu, sektor modern lebih menjanjikan uang lebih banyak. Memang uang bukan segala-galanya, namun segala-galanya butuh uang. Namun kawan, engkau lupa satu hal, uang tidak bisa membeli yang dinamakan bahagia. Coba engkau sempatkan kawan, keluar dari sangkarmu yang indah, mari berjalan bersamu. Ku ajak engkau memandang berlama-lam gelak tawa orang-orang yang menikmati kopi di warung pinggir jalan, kuajak engkau memandang sejenak perkampungan kumuh, engkau akan menemukan wajah bahagia yang tak dapat engkau temui didunia manapun. Kawan, inikah yang mau engkau ubah menjadi sebuah dunia modern? Dunia yang harus efisien dan efektif? Tak bisakah sektor modern dan tradisonal berjalan bersama kawan?
Kawan didalam ilmu ekonomi ada yang dinamakan konsep Input-Output atau disingkat I-O. Kalau boleh aku artikan kawan, konsep ini memberitahu kita bahwa sektor tradisonal dan sektor modern mempunyai hubungan saling terikat. Misal, produksi daging sapi berpengaruh langsung pada makanan kaleng, berpengaruh pada kredit yang disalurkan oleh bank dan lembaga keuangan, berpengaruh pada pemenuhan gizi masyarakat. Pendek kata, sektor modern tidak bisa hidup tanpa sektor tradisonal, namun sektor tradisonal tetap bisa hidup tanpa sektor modern. Kawan, coba sebutkan padaku, negara mana di eropa yang maju tanpa didahului sektor pertaniannya? Kawan pasal 33 dalam UUD 1945 pada dasarnya untuk melindungi sektor tradisonal dari cengkraman sektor modern. Yang dicita-citakan pasal 33 UUD 1945 adalah menciptakan keharmonisan kemajuan antara sektor tradisonal dan modern. Sulit? Memang sulit kawan, pasal 33 adalah bentuk ideal dan pencapaian budaya tertinggi bangsa ini. Jauh sebelum ahli-ahli ekonomi meributkan masalah eksternalitas. Eksternalitas adalah, sebuah hasil baik positif maupun negatif yang kita terima dari suatu kegiatan, meskipun kita tidak melakukan kegiatan itu. Coba kawan, mana ada UUD negara didunia ini yang mengatur masalah eksternalitas secara mendetail.
Kawan, begitu juga dengan pancasila yang merupakan pencapaian peradaban bangsa Indonesia. Peradapan itu tercermin dari budayanya yang gemar silahturami dan gotong royong. Sila 1 sampai sila 5 mencerminkan silahturami dan gotong royong. Memang Tuhan tidak terlibat dalam pembuatan pancasila ini. Namun Tuhan tetap terlibat dalam bentuk ide yang keluar. Ide tentang konsep Ketuhanan YME, ide tentang kemanusian, ide tentang persatuan, ide tantang kerakyatan dan ide tentang keadilan. Coba tengok kawan, apa warna bendera kita? Merah dan Putih. Bukankah itu merupakan bendera Rasulluah? Yang sudah membudaya di masyarakat Indonesia, coba kalau ada selamatan nama bayi, selamatan tahun baru Islam pasti menggunakan bubur merah dan putih. Itulah kawan symbol budaya kita, yang ditancapkan pendiri negara ini. Budaya akan tetap hidup dalam dirimu kawan. Itukah yang akan kau ubah kawan, kau ubah dengan ilmu modern yang kau dapat dari luar negeri?
Kawan, jika engkau tetap bersikeras begitu tidak mengapa, tapi maukah engkau mendengar suaraku? Suara pemuda yang hanya tahu kehidupan disebuah warung. Pintaku kawan, ku ingin melihat pemuda-pemuda anak-anak sejarah ini belajar untuk tidak menjadi apa-apa. Engkau punya kemampuan tinggi pergunakanlah untuk membanngun negara ini, tanpa mengharap pamri untuk negara ini. Kawan, aku hanya ingin melihat seorang pemuda berkata “ Saya sudah cukup senang bertemu bapak President Republik Indonesia, republik yang telah lama membesarkan aku, republik yang telah memberiku banyak pengalaman untuk tumbuh menjadi seorang Garuda. Kawan itulah renungan yang aku buat di pojok warung. Meskipun tidak jelas dan tak berbentuk tapi itulah suara hatiku. Kawan kalau ada guna buatmu ambillah. Kalau tidak ada guna ya Alhamdulilah. Paling tidak ada yang membaca tulisan tak berbentuk dari seorang pemuda warung.

17/08/10

WHAT MORE INDEPENDENT NOW?

Hari tepat pukul 10.00, enam puluh lima tahun yang lalu lahirlah sebuah Negara. Bangsa yang mendiami Negara tersebut mempunyai sejarah yang panjang. Mulai sejarah tentang awal mula kehidupan manusia sampai sejarah sebuah kerajaan yang membuat kagum semua generasi. Dan sekarang bangsa tersebut melahirkan sebuah Negara yang dinamakan Indonesia. Berawal dari sebuah ide yang dicetuskan generasi-generasi muda bangsa tersebut, hingga dibawah dalam sebuah konggres pada tahun 1928, akhirnya disetujui Negara yang akan lahir besok bernama Indonesia.
Setelah semalam suntuk merumuskan bagaimana baiknya proses kelahiran beserta komponen pendukungnya, akhirnya tepat pukul 10.00 1945 lahirlah Indonesia. Bayi Indonesia pada tahun-tahun awal kelahirannya sungguh dihadapi dengan perjuangan berat. Mulai dari perumusan sistem Negara dan segala perangkat pendukung guna mendukung kelangsungan hidup si Bayi. Sampai berjuang melawan penyakit yang mengancam kelangsungan hidup si Jabang bayi. Penyakit tersebut ada yang berasal dari dalam diri dan dari luar diri si Jabang bayi.
Dari dalam diri muncul penyakit pemberontakan, mulai dari tidak puas akan kekuasaan, tidak puas akan ideology dan keinginan secara sepihak menerapkan sebuah aturan agama. Tentu saja sumber dari semua penyakit dari dalam diri adalah ketidakpuasan. Misalnya: ketidakpuasan mata dengan kinerjanya dan ingin mengambil alih kinerja telinga. Atau organ dalam ingin tampil menjadi organ luar, bisa kacau tatanan kehidupan si Jabang bayi. Bayangkan jika organ didalam tubuh kita lupa tidak mengurus kewajibannya sendiri, malah mengurus kewajiban organ yang bukan tanggung jawabnya bisah susahkan tubuh kita. Tapi itulah yang terjadi saat-saat awal negara Indonesia berdiri. Yang mau merebut kekuasaan karna tidak puas menjadi seorang menteri, ada yang mau mengganti ideology dengan ideology keyakinannya sendiri dan ada yang mau menerapkan sebuah aturan agama secara kaku dan kolot.
Keinginan memang tidak akan pernah ada habisnya. Meskipun didalam konsep mendefinisikan bahwa dalam hidup harus mengedepankan kebutuhan daripada keinginan. Bahkan dahulukan kebutuhan yang penting daripada kebutuhan yang kurang penting. Namun konsep ini lupa satu hal bahwa kebutuhan timbul dari keinginan, sedangkan keinginan timbul dari akal, pikiran serta hawa nafsu. Jika yang mempengaruhi keinginan adalah hawa nafsu, rusak sudah. Kalau akal masih fity-fity. Kalau hati yang menang akan menjadi lebih baik.
Dari luar si jabang bayi juga diserang penyakit yang tak kalah mematikan. Penyerangan secara fisik maupun secara politik. Si jabang bayi harus menghadapi serangan-serangan agresi militer, namun organ dalam tubuh dengan sigab mempertahankan kelangsungan hidup si jabang bayi. Hanya bermodalkan semangat, keyakinan pada Gusti Allah dan impian masa depan komponen-komponen yang ada didalam tubuh bahu-membahu berjuang bersama-sama. Tak peduli didunia internasional diancam embargo, luas wilayah dipersempit, kebutuhan pokok di blockade, kalah persenjaataan perang. Namun semua itu kalah dengan doa dan keyakinan untuk menang.
Akhirnya pada tahun 1949 ditandatangani sebuah perjanjian. Perjanjian itu dikenal dengan Konfrensi maja bundar. Akhir tahun 1949 penyakit yang mencengkram Indonesia mengaui kedaulatan Indonesia. Pada tanggal 19 Mei 1950 si jabang bayi resmi menjadi negara kesatuan Republik Indonesia(NKRI). Pada usia balita inilah Indonesia memasuki jaman baru. Jaman orde lama.
Hal yang patut membanggakan dan perlu selalu diteladani, saat usia balita Indonesia berhasil menyatukan negara Asia Afrika didalam satu wadah yang dinamakan konfrensi Asia-Afrika. Menandakan terbentuknya era baru, era non penjajahan. Dan Indonesia menjadi negara terpenting didalam percaturan politik dunia. Keajaiban bocah kecil Indonesia masih terus berlanjut. Tanggal 13 Desember 1957 diberlakukannya Zona ekonomi eksklusif untuk wilayah territorial Indonesia. Dan ZEE diakui secara internasional dan diakui sebagai hukum kelautan internasional. Siapa lagi yang mempelopori? Si bocah ajaib Indonesia. Pada tahun yang sama Indonesia berani menantang dunia. Di usia yang masih sangat muda Indonesia berani keluar dari PBB dan menantang negara-negara adidaya adikuasa pemegang hak veto. Mendirikan organisasi Non-blok sebagai tandingan PBB.
Namun keajaiban-keajaiban tersebut sempat terganggu karena sibocah jatuh dari pohon yang tinggi. Mengalami gagar otak dan tulang patah. Hari kejaian itu adalah hari yang tak akan terlupakan bagi bocah Indonesia. Ya,pada tanggal 30 September 1965, terjadi peristiwa G30s/PKI. Peristiwa ini merubah konstruk fundamental dan alur berpikir bangsa Indonesia. Sebuah intrik tingkat tinggi, yang melibat berbagai disiplin ilmu sosial. Mulai ilmu politik, ilmu ekonomi, ilmu sosiologis sampai ilmu sejarah. Semua lengkap menjadi satu didalam peristiwa G30s/PKI.
Tanggal 22 February 1967, berdasarkan ketetapan MPRS no. IX/MPRS/1966. President Sukarno menyerahkan jabatannya pada Jendral Suharto. Dalam keadaan lupa ingatan karena terjadi gagar otak akibat jatuh dari pohon, Indonesia kini memasuki jaman baru jaman orde baru. Diluncurkannya program Pelita, membuat Indonesia berpacu memutar mesin perekonomiannya. Semua yang menghalangi laju perekonomian akan dibabat habis tanpa belas kasihan. Pemuda yang bernama Indonesia perlahan-lahan berubah menjadi pemuda yang modern dan mulai terjebak pada permainan orang-orang tua yang menghuni benua biru dan benua disebrang atlantik.
Pembangunan perekonomian modern mulai dilaksanakan. Peluncuran satelit palapa, masuknya perusahaan-perusahaan minyak bmultinasional dan peningkatan kesehatan pendidikan. Dalam sekejap Indonesia menjadi the miracle economic asian. Sebutan macan Asia telah disematkan pada Indonesia yang masih mudah. Darah mudah bergejolak membuat sebuah lompatan-lompatan tanpa mempedulikan akibat yang akan timbul. Semua resiko yang akan terjadi ditanam bagai bom waktu yang siap meledak oleh orde baru. Tahun 1998 satu bom besar meledak. Pemuda Indonesia mengalami gagar otak kembali.
Peristiwa krisis moneter yang merembet menjadi krisis politik dan sosial, merubah kembali tatanan fundamental negara ini. Didalam kepanikan yang luar biasa masih saja ada rakyat Indonesia yang tersenyum dan tertawa lepas seakan tidak terjadi apa-apa. Bangsa Indonesia memang bangsa unggulan. Mereka adalah masyarakat tradisonal yang memegang teguh pada ajaran-ajaran tradisonal yang mementingkan keseimbangan dalam kehidupan. Ajaran yang selama ini dilupakan, dianggap ajaran kuno yang tidak sesuai dengan arus perkembangan jaman.
Dampak peristiwa krisis moneter 1998, masih sangat dirasakan sekarang. Saat ini pemuda yang bernama Indonesia tengah beranjak dewasa. Dia sedang mencari ingatannya yang hilang akibat peristiwa gagar otak dan mencari jati dirinya yang sebenarnya. Saat ini terserah bangsa Indonesia, mau dibawah kemana langkah kaki negara ini? What next action Independent now? Hanya engkau wahai bangsa Indonesia yang mampu menjawabnya. Indonesia apapun bentukmu, mau berubah seperti apa atau hancur sekalipun. Aku tetap setia mencintaimu. Selamat ulang tahun Indonesia. Semoga kado ini bisa sedikit membuka gerbang jati dirimu. Wallahu a’lam